|
Guru Besar FMIPA UI Soroti Tantangan Energi Hidrogen dan Peran Material Berteknologi Tinggi
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc, menyoroti pentingnya pengembangan Metal Organic Framework (MOF) sebagai material maju yang memiliki potensi luas di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, energi terbarukan, industri katalis, hingga remediasi lingkungan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap FMIPA UI dalam bidang Ilmu Kimia Bidang Kimia Koordinasi, Katalis Homogen, dan Sintesis Organologam pada Sabtu, 11 April 2026, di Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok. Prosesi pengukuhan dipimpin oleh Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU.
Dalam pidato berjudul The Usefulness of Useless MOF (Metal Organic Framework) untuk Energi Hijau Berkelanjutan, Prof. Zulys menekankan pentingnya penguatan riset sains dasar sebagai fondasi utama pengembangan teknologi. Ia menilai kondisi riset sains dasar di Indonesia saat ini masih lemah, sementara harapan terhadap hasil teknologi dan aplikasi sangat besar, sehingga membentuk fenomena “kerucut terbalik” dengan fondasi yang tidak kokoh.
Menurutnya, MOF awalnya dianggap sebagai material yang “tidak berguna” karena belum mampu mengungguli material seperti zeolit dalam hal absorpsi maupun katalis dalam kestabilan termal. Namun, seiring perkembangan riset global, material ini justru menunjukkan potensi luar biasa.
“Selama kita melakukan riset, tidak ada yang sia-sia,” ujar Prof. Zulys.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan MOF saat ini sangat pesat, antara lain melalui penelitian Prof. Omar M. Yaghi dan Prof. Susumu Kitagawa. Material ini kini dimanfaatkan sebagai katalis untuk produksi kimia, fotokatalis untuk menghilangkan logam berat dalam pencemaran air, serta untuk menurunkan kadar karbon melalui proses pemisahan dan penyerapan selektif. Dengan luas permukaan mencapai 7.000–8.000 m² per gram, MOF juga dinilai sangat potensial sebagai media penyimpanan gas yang efisien.
Struktur MOF yang teratur dan fleksibel menjadikannya salah satu kandidat unggulan dalam pengembangan teknologi masa depan di bidang energi, lingkungan, dan kesehatan.

Lebih lanjut, Prof. Zulys menyoroti tantangan dalam pengembangan energi alternatif, khususnya produksi hidrogen melalui proses water splitting. Ia menjelaskan bahwa proses hidrolisis air selama ini dinilai belum efisien karena energi yang dibutuhkan jauh lebih besar dibandingkan energi yang dihasilkan.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia menekankan pentingnya pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi input agar proses tersebut dapat dikategorikan sebagai energi hijau.
“Hidrogen sebagai bahan bakar menghasilkan air sebagai produk akhirnya, sehingga tidak menghasilkan karbon,” jelasnya.
Dalam mendukung riset MOF, Prof. Zulys menekankan perlunya dukungan instrumen karakterisasi yang canggih, seperti FTIR (Fourier Transformation Infrared), X-RD (X-Ray Diffractometer), X-PS (X-Ray Photoelectron Spectroscopy), SEM-EDX, TGA (Thermal Gravimetric Analysis), serta X-Ray Crystallography.
“Alhamdulillah, kita sudah memiliki dua struktur BIO-MOF yang telah berhasil disintesis,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti tantangan berikutnya, yakni penyimpanan gas hidrogen sebagai bahan bakar, yang membutuhkan material dengan kemampuan penyerapan tinggi, seperti MOF.
“Bayangkan, kita tidak lagi hanya menemukan material di alam, tetapi menciptakan struktur baru dengan fungsi yang kita inginkan,” kata Prof. Zulys.
Dalam pengembangan risetnya, tim Prof. Zulys telah bekerja sama dengan berbagai institusi dan kelompok riset lain untuk mengeksplorasi berbagai aplikasi MOF, antara lain dalam katalisis, transformasi organik, carbon capture and utilization (CCU), drug delivery, adsorpsi logam berat, serta fotokatalisis untuk degradasi zat warna.
Pada kesempatan tersebut, ia secara khusus menampilkan potensi besar aplikasi water splitting sebagai sumber energi alternatif masa depan.
Menutup pidatonya, Prof. Zulys menegaskan bahwa masa depan energi dunia tidak hanya ditentukan oleh sumber energi, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam merekayasa sistem yang mampu mengonversi, menyimpan, dan memanfaatkan energi secara efisien.
Ia menambahkan bahwa Metal-Organic Frameworks, khususnya yang berbasis lantanida, membuka paradigma baru dalam desain katalis, dari sekadar material pasif menjadi arsitektur molekuler yang dapat dirancang untuk mengendalikan reaksi energi pada tingkat fundamental.
“Jika hidrogen adalah energi masa depan, maka katalis adalah jantungnya, dan rekayasa material adalah kuncinya,” tegasnya.
“Dari struktur atom yang tak kasat mata hingga energi masa depan umat manusia, sains mengajarkan kita bahwa solusi besar sering lahir dari rekayasa yang paling mendasar,” pungkas Prof. Zulys.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



