Dua Dosen FMIPA UI Raih Pendanaan PHC Nusantara 2026, Dorong Sinergi Riset Indonesia–Prancis

Dua dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) berhasil meraih pendanaan PHC Nusantara 2026, program hibah riset kolaboratif antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KEMDIKTISAINTEK) dan Pemerintah Prancis melalui MEAE/MESR.

Kedua penerima pendanaan tersebut adalah Dr. sc. hum. Deni Hardiansyah, S.Pd., M.Si. dari Departemen Fisika dan Munawar Khalil, S.Si., M.Eng.Sc., Ph.D. dari Departemen Kimia. Program PHC Nusantara sendiri bertujuan mendorong kolaborasi riset internasional yang inovatif dan berdampak global, sekaligus memperkuat mobilitas peneliti dan kapasitas riset nasional.

Seleksi Ketat, Kompetisi Internasional

Pengumuman penerima pendanaan disampaikan oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan KEMDIKTISAINTEK melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), berdasarkan hasil pembahasan komite gabungan Indonesia–Prancis pada 31 Maret 2026.

Dari total 72 proposal yang diajukan secara nasional, hanya 15 proposal yang berhasil lolos pendanaan. Tiga di antaranya berasal dari Universitas Indonesia, menegaskan daya saing riset institusi ini di tingkat global.

Riset Dr. Deni Hardiansyah: Menuju Terapi Kanker Lebih Presisi

Melalui riset berjudul Patient-Specific Molecular Radiotherapy Dosimetry, Dr. Deni Hardiansyah mengembangkan pendekatan dosimetri radioterapi yang berfokus pada karakteristik masing-masing pasien dengan dukungan perangkat lunak OpenDose3D. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan ketepatan terapi kanker sekaligus meminimalkan efek samping.

Ia menegaskan bahwa riset ini memiliki urgensi yang sangat tinggi, khususnya dalam konteks Indonesia. “Urgensinya sangat tinggi, karena di Indonesia belum tersedia perangkat lunak untuk perencanaan terapi kanker berbasis bahan radioaktif. OpenDose3D merupakan software gratis yang dikembangkan konsorsium internasional dan dapat diakses oleh rumah sakit di Indonesia,” ujarnya.

Dibandingkan metode konvensional, OpenDose3D menawarkan sejumlah keunggulan penting. Selain bersifat terbuka, perangkat ini telah mengintegrasikan metode perencanaan terapi tingkat lanjut. “Salah satu fitur unggulannya adalah pemodelan matematika otomatis yang dapat menentukan model terbaik dari pergerakan bahan radioaktif di dalam tubuh pasien secara akurat. Fitur ini bahkan belum tentu tersedia di software komersial,” jelasnya.

Riset ini juga melibatkan kolaborasi internasional. Mitra dari Prancis berperan dalam pengembangan perangkat lunak sekaligus penyediaan data untuk proses validasi. Selain itu, penelitian ini akan mengimplementasikan pendekatan penyederhanaan terapi berbasis satu kali pencitraan radionuklida, yang didukung oleh pemodelan populasi dan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Luaran yang ditargetkan mencakup pengembangan lanjutan OpenDose3D, publikasi ilmiah, serta implementasi klinis di Indonesia. Penelitian ini direncanakan berlangsung pada pertengahan 2026 hingga 2029, diawali dengan pematangan rencana serta pengajuan persetujuan etik untuk penggunaan data pasien di Prancis.

Dalam pelaksanaannya, Dr. Deni bekerja sama dengan peneliti dari Montpellier, Prancis, dalam pengembangan dosimetri radioterapi dan pemodelan biologis. Kolaborasi ini juga didukung oleh mitra dari Universitas Ulm, Jerman, yang berkontribusi dalam penguatan pemodelan matematika serta validasi berbasis data klinis.

Munawar Khalil, Ph.D.: Konversi CO₂ untuk Solusi Lingkungan

Di bidang kimia berkelanjutan, Munawar Khalil, Ph.D. memimpin riset bertajuk Indonesia-France Research Alliance on CO₂ Conversion (INFRACO₂) yang berfokus pada konversi karbon dioksida menjadi produk bernilai tambah.

Menurutnya, isu CO₂ sangat mendesak bagi Indonesia.

“Pengurangan emisi CO₂ sangat penting untuk menekan dampak perubahan iklim sekaligus menjaga ketahanan energi. Selain mengurangi penggunaan energi fosil, kita juga perlu teknologi yang mampu mengubah CO₂ menjadi produk bernilai guna,” jelasnya.

Riset ini menggunakan teknologi electrochemical CO₂ reduction (eCO₂RR), yang mampu mengonversi CO₂ menjadi bahan bakar dan produk kimia. Pendekatan ini didukung pengembangan katalis generasi baru serta simulasi teoretis untuk memahami mekanisme reaksi secara mendalam.

Kontribusi riset ini tidak hanya pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga pada pengembangan konsep ekonomi karbon sirkular.

“Kami ingin menjadikan CO₂ bukan sekadar limbah, tetapi sebagai sumber daya untuk menghasilkan bahan bakar dan bahan kimia bernilai tinggi,” tambahnya.

Dalam pembagian peran, tim Indonesia akan fokus pada sintesis dan karakterisasi katalis serta pengujian elektrokimia, sementara mitra Prancis dari ENS Lyon akan menangani pemodelan teoretis dan analisis struktur elektronik.

Output yang ditargetkan meliputi pengembangan material dan katalis baru, publikasi ilmiah bereputasi, serta peluang pengembangan teknologi yang lebih efisien dan aplikatif. Penelitian ini akan dimulai pada 2026 dan dilaksanakan di Universitas Indonesia, BRIN, serta ENS de Lyon.

Apresiasi dan Penguatan Kolaborasi

Dekan FMIPA UI, Prof. Dr. Tito Latif Indra, M.Si., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kekuatan riset FMIPA UI tidak hanya pada kualitas akademik, tetapi juga pada kemampuannya menjawab persoalan nyata. Riset kami tidak berhenti di laboratorium, melainkan dirancang untuk diterapkan dan memberi manfaat luas.” ujar Prof. Tito.

Keberhasilan ini menegaskan peran strategis FMIPA UI dalam jejaring riset internasional. Program PHC Nusantara 2026 pun menjadi instrumen penting untuk memperluas kolaborasi global dan mendorong lahirnya inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.

“Kolaborasi ini penting karena menempatkan peneliti Indonesia sebagai mitra setara dalam produksi pengetahuan global. Kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi ikut merancang Solusi yang relevan bagi dunia.” imbuhnya.

Bagikan ini:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Email
Tumblr
Telegram
Print

Berita Lainnya