|
Depok 1 September 2026 — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) mendorong kerja sama Universitas Indonesia (UI) dengan lima perguruan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Ulama (PTNU) segera ditindaklanjuti melalui program akademik yang konkret. Penguatan kapasitas dosen, pendidikan lanjut, penelitian bersama, serta pengembangan sains dan teknologi menjadi sejumlah peluang kerja sama yang dapat dikembangkan.
Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra, S.Si., M.Si., mengatakan, kesepakatan antarlembaga perlu diterjemahkan menjadi program yang terukur dan memberikan dampak bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
“Yang penting adalah bagaimana kesepakatan ini dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” kata Prof.Tito dalam rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pesantren Besar Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).
MoU UI dan PTNU ditandatangani Rektor UI Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU. bersama jajaran pimpinan UI dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada Jumat (28/8/2026). Kerja sama tersebut melibatkan Universitas KH A Wahab Hasbullah, Universitas Nurul Jadid Probolinggo, Sekolah Tinggi Khuliyatul Qur’an Al-Hikam Depok, Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto, dan STAINU Assalafie Babakan Cirebon.
Penandatanganan berlangsung di Pesantren Al Muhajirin 3, bagian dari kompleks Pesantren Besar Tambakberas, dan disaksikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.
Dalam kesempatan itu, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU. menyoroti semakin ketatnya tantangan akses pendidikan tinggi. Kolaborasi antarlembaga dinilai penting untuk membuka ruang pengembangan yang lebih luas bagi generasi muda. Perguruan tinggi NU juga memiliki kekuatan karena tumbuh dari tradisi pendidikan pesantren yang telah mengakar di masyarakat.

Memperkuat Ekosistem Sains
Sehari setelah penandatanganan MoU, Prof. Tito menjadi narasumber dalam Halaqoh Pendidikan Tinggi NU bertajuk “Menyongsong Bonus Intelektual di Abad ke-2 Nahdlatul Ulama” yang diselenggarakan Forum Silaturahim PCINU Internasional di lokasi yang sama.
Dalam paparan bertajuk “Menata Masa Depan Perguruan Tinggi Indonesia”, Prof. Tito memetakan tiga tantangan strategis pendidikan tinggi nasional, yakni kesenjangan kualitas dan kapasitas antarperguruan tinggi, belum optimalnya keterhubungan hasil riset dengan kebutuhan masyarakat, serta ekosistem kolaborasi dan konektivitas global yang masih perlu diperkuat.
Tantangan tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan daya saing berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga mengembangkan riset yang dapat menjawab persoalan masyarakat.
FMIPA UI, dengan bidang keilmuan matematika dan sains, memiliki posisi strategis dalam pengembangan riset dan inovasi lintas disiplin. Pada 2025, FMIPA UI tercatat memiliki 614 kerja sama aktif dengan 27 mitra internasional dan 81 mitra nasional, serta jejaring 161 universitas mitra di berbagai kawasan.
Jejaring tersebut menjadi modal untuk mengembangkan kolaborasi dengan PTNU melalui penguatan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan, riset berorientasi dampak, serta perluasan konektivitas global.
“Kolaborasi ini diperlukan untuk memperluas akses terhadap pengetahuan, jejaring riset, dan pengembangan talenta sains di perguruan tinggi,” kata Prof. Tito.
Kolaborasi tersebut sekaligus membuka peluang bagi FMIPA UI untuk memperluas ekosistem sains dan teknologi ke perguruan tinggi yang berkembang dari lingkungan pesantren. Perluasan jejaring diharapkan dapat memperkuat akses terhadap pengetahuan, riset, dan pengembangan talenta di bidang sains.

Mendorong Pendidikan Lanjut dan Riset Bersama
Salah satu bentuk tindak lanjut yang dibahas adalah pengembangan program double degree jenjang pascasarjana bagi dosen PTNU yang memenuhi persyaratan kerja sama dengan UI. Program tersebut dapat meningkatkan kualifikasi akademik dosen sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan perguruan tinggi asal.
Peluang pendidikan lanjut juga dapat dikembangkan bagi kalangan santri, sementara kerja sama penelitian dapat diarahkan pada pengembangan bidang keilmuan dan persoalan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Pendidikan lanjut dan riset bersama dapat menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kualifikasi dosen sekaligus memperkuat kapasitas perguruan tinggi,” ujar Prof. Tito.
Dalam pembahasan tindak lanjut, Kementerian Agama turut membuka peluang dukungan pendanaan untuk beasiswa dosen dan mahasiswa serta program penelitian. Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Rukman Basori mengatakan, pola kerja sama tripartit antara PTNU, UI, dan Kementerian Agama dapat dikembangkan untuk mendukung pembiayaan pendidikan, riset, dan beasiswa.
Dukungan tersebut, antara lain, dapat diberikan kepada dosen PTNU yang melanjutkan pendidikan di UI melalui skema beasiswa Kementerian Agama.
Diskusi lanjutan UI di Tambakberas juga mengarahkan kerja sama pada penguatan pendidikan pascasarjana, peningkatan kualifikasi akademik dosen, penelitian bersama, pengembangan program studi dan fakultas, serta pengabdian kepada masyarakat.
Bagi FMIPA UI, kerja sama ini menjadi peluang memperluas kontribusi keilmuan sains dan teknologi sekaligus membangun jejaring akademik dengan perguruan tinggi berbasis pesantren, sehingga dapat berkembang menjadi ekosistem pendidikan dan riset yang memperkuat kualitas sumber daya manusia serta menghasilkan inovasi berdampak bagi masyarakat.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



