|
Seminar FMIPA UI Angkat Inovasi AI untuk Urban Farming dan Peluang Bisnis Berkelanjutan
Depok, 25 Februari 2026 – Isu degradasi lingkungan, ketahanan pangan, hingga pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) kian menjadi perhatian di berbagai sektor. Perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong lahirnya solusi inovatif yang konkret dan berorientasi pada tindakan nyata. Berangkat dari urgensi tersebut, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menggelar UI Geoscience Seminar (UIGS) x STARBORN MENGAJAR 2026 bertema “TANAM SAYANG: Peduli Lingkungan Mulai dari Rumah”, Senin (23/2/2026), di Aula Prof. Dr. Ir. Soemantri Brodjonegoro, Kampus FMIPA UI Depok.
Kegiatan yang diikuti mahasiswa program studi Geologi dan Geofisika ini menghadirkan Direktur Utama PT. Starborn Chemical, Dr. Ir. Harris Susanto, S.Si., M.Hum., sebagai narasumber utama. Seminar ini menjadi ruang dialog antara akademisi dan praktisi untuk membahas solusi lingkungan berbasis inovasi dan kewirausahaan.
Dekan FMIPA UI, Prof. Dr. Tito Latif Indra, M.Si. dalam sambutannya menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam merespons persoalan lingkungan yang semakin kompleks. “Kolaborasi antara kampus dan praktisi industri menjadi kunci untuk menghadirkan solusi lingkungan yang tidak hanya konseptual, tetapi juga implementatif dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sesi pembuka berlangsung interaktif. Dr. Harris membagikan produk salad hasil usaha mandirinya kepada peserta. Ia menceritakan bagaimana usaha tersebut berkembang hingga mempekerjakan 18 karyawan dan memiliki tiga outlet aktif. Kisah tersebut menjadi pengantar bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana yang dikelola secara konsisten dan profesional.
Memasuki materi inti, Dr. Harris mengajak mahasiswa menelusuri sejarah Cultuurstelsel (Tanam Paksa) secara dialogis. Diskusi ini diarahkan pada pemahaman bahwa tanah merupakan fondasi utama ekosistem dan keberlanjutan kehidupan. Dari perspektif tersebut, ia menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang lebih bijak dan berorientasi jangka panjang.
Dalam sesi teknologi dan inovasi, ia mendorong mahasiswa untuk mengembangkan solusi yang sudah ada namun belum optimal, termasuk melalui pengembangan perangkat lunak berbasis kebutuhan riil masyarakat. “Kalau ingin menciptakan inovasi, jangan selalu mulai dari nol. Sempurnakan yang sudah ada dan gunakan AI sebagai alat untuk mempercepat dampaknya, khususnya di bidang lingkungan dan pertanian,” kata Harris.
Ia juga menekankan bahwa perubahan besar harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga. “Gerakan Tanam Sayang itu sederhana: mulai dari rumah, rawat pekarangan, dukung ketahanan pangan keluarga. Dari situ, dampaknya bisa meluas ke masyarakat,” tuturnya.
Di akhir pemaparan, konsep “Monetisasi Segalanya” turut dibahas. Menurutnya, setiap aktivitas pelestarian lingkungan yang dikelola secara profesional memiliki nilai ekonomi. Pengelolaan pekarangan rumah, urban farming, hingga inovasi berbasis lingkungan dinilai berpotensi menjadi peluang usaha berkelanjutan.
Diskusi yang berlangsung setelah sesi materi menunjukkan antusiasme tinggi mahasiswa. Topik implementasi AI dalam pertanian, strategi memulai tanam di lahan terbatas, hingga peluang monetisasi hasil pekarangan menjadi sorotan utama.
Penyelenggaraan UIGS x STARBORN MENGAJAR 2026 menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan FMIPA UI untuk menghadirkan forum akademik yang relevan dengan isu-isu strategis, serta membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan lingkungan sejak lingkup keluarga.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



