|
FMIPA UI Bahas Keterkaitan Keanekaragaman Hayati dan Kesehatan melalui Perspektif Pengelolaan Hutan
Depok, 3 Juni 2026 – Keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ekosistem hutan. Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya homogenisasi pangan, pengelolaan hutan dinilai menjadi salah satu kunci dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus kualitas kesehatan masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam seminar bertajuk Linking Biodiversity and Health yang diselenggarakan Program Studi Sarjana Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Rabu (17/6), di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, Gedung C FMIPA UI. Seminar menghadirkan Prof. Terence C.H. Sunderland dari University of British Columbia, Kanada, sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Prof. Sunderland menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan hutan jauh melampaui aspek konservasi. Menurutnya, hutan merupakan bagian penting dari sistem pangan yang menopang kehidupan manusia, baik melalui penyediaan sumber pangan maupun jasa ekosistem yang mendukung kesehatan.
“Hutan, pohon, dan manusia merupakan satu kesatuan yang saling bergantung. Ketika keanekaragaman hayati menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga terhadap kualitas pangan dan kesehatan masyarakat,” ujar Prof. Sunderland.

Ia juga menyoroti fenomena food homogenization atau homogenisasi pangan yang semakin terjadi di berbagai negara. Kondisi tersebut membuat masyarakat bergantung pada jenis pangan yang semakin terbatas sehingga berpotensi mengurangi keberagaman nutrisi yang dikonsumsi.
“Keanekaragaman pangan merupakan fondasi sistem pangan yang tangguh. Karena itu, pengelolaan hutan perlu dipandang sebagai investasi untuk menjaga keberlanjutan sumber pangan dan kesehatan di masa depan,” katanya.
Menurut Prof. Sunderland, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Potensi tersebut perlu dikelola secara berkelanjutan agar mampu mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga fungsi ekologis hutan.
Dr. Mega Atria, M.Si. selaku perwakilan dari Program Studi Sarjana Biologi FMIPA UI, Dr mengatakan seminar ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami keterkaitan antara ilmu biologi dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, isu keanekaragaman hayati tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan dan kesehatan.
“Kami berharap seminar ini dapat memperluas wawasan mahasiswa tentang keterkaitan hutan, gizi, dan kesehatan, sekaligus menumbuhkan cara berpikir kritis terhadap tantangan lingkungan dan kesehatan global,” ujar Dr. Mega.
Ia menambahkan, kehadiran akademisi internasional di FMIPA UI diharapkan dapat memperluas perspektif sivitas akademika sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi ilmiah dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan.

Seminar yang dimoderatori Dr. Mochamad Indrawan dari Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI) diikuti mahasiswa, dosen, dan peneliti di lingkungan FMIPA UI. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan pembahasan mengenai hubungan hutan dan sistem pangan, konservasi hutan untuk kesehatan masyarakat, kebijakan pengelolaan lanskap, pemanfaatan pengetahuan tradisional dalam menjaga keanekaragaman hayati, serta peran mahasiswa dan generasi muda dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Melalui seminar ini, FMIPA UI mendorong penguatan perspektif bahwa pelestarian keanekaragaman hayati bukan hanya menjadi agenda konservasi, tetapi juga bagian dari strategi membangun sistem pangan dan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan. Forum tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara sains, kebijakan, dan masyarakat dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia sebagai modal dasar menuju pembangunan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



