|
Depok, 2 Juli 2026 — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menghadirkan edukasi konservasi mangrove bagi masyarakat pesisir melalui program pengabdian kepada masyarakat internasional di Kubang Badak, Langkawi, Malaysia, Selasa (17/6/2026). Program ini merupakan bagian dari World Class University (WCU) Community Service Program hasil kolaborasi FMIPA UI dengan Universiti Sains Malaysia (USM).
Kegiatan dipimpin Dr. Retno Lestari, M.Si., dengan Prof. Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria, M.Sc. sebagai Koordinator Program SustainaBlue UI. Selain memberikan edukasi kepada masyarakat, tim juga melakukan pemetaan tingkat literasi masyarakat mengenai fungsi ekosistem mangrove melalui wawancara terhadap 15 warga setempat.
Hasil pemetaan menunjukkan literasi masyarakat pesisir mengenai fungsi mangrove masih didominasi pemahaman terhadap manfaat ekonomi, seperti menopang perikanan dan pariwisata. Sementara itu, pengetahuan mengenai peran mangrove sebagai penyerap karbon, pelindung pantai dari abrasi, serta penyangga keanekaragaman hayati masih beragam.
Temuan tersebut menjadi catatan penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap ekosistem pesisir sebagai salah satu instrumen mitigasi perubahan iklim. Indonesia yang memiliki kawasan mangrove terluas di dunia membutuhkan pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan agar fungsi ekologis dan manfaat ekonomi mangrove dapat terus terjaga.

Menurut Prof. Mufti, hasil penelitian perlu diterjemahkan menjadi pengetahuan yang mudah dipahami masyarakat sehingga dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan lingkungan.
“Perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan penelitian, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan ilmiah dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang kita hadapi saat ini,” ujarnya.
Selain menyelenggarakan edukasi, tim FMIPA UI mengamati kondisi ekosistem mangrove di Kubang Badak dan Kilim Karst Geoforest Park yang merupakan bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark. Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai jenis mangrove dan satwa liar sekaligus berperan menjaga kestabilan kawasan pesisir.
Tim juga mempelajari budidaya tiram di Langkawi Oyster Farm yang dikelola Centre for Marine and Coastal Studies (CEMACS) Universiti Sains Malaysia. Sistem budidaya tersebut memanfaatkan sifat alami tiram sebagai organisme penyaring (filter feeder) sehingga tidak memerlukan pakan tambahan. Selain memiliki nilai ekonomi, keberadaan tiram juga membantu menyaring partikel organik di perairan.

Meski demikian, Prof. Mufti mengingatkan adanya tantangan baru bagi pengembangan akuakultur pesisir, yakni pencemaran mikroplastik. Menurut dia, partikel mikroplastik yang tersuspensi di kolom air dapat masuk ke dalam tubuh organisme bivalvia selama proses filtrasi.
“Mikroplastik yang tersuspensi di kolom air dapat masuk ke dalam tubuh bivalvia selama proses filtrasi. Ketika air melewati insang, partikel-partikel tersebut dapat terperangkap dan pada akhirnya terakumulasi di dalam jaringan organisme,” katanya.
Kegiatan ini melibatkan sembilan mahasiswa dan peneliti Departemen Biologi FMIPA UI, yaitu Niken Laoren, Rakha Nabillutra Falah, Cloudya Zefanya, Ahura Zia Fiwansjah, Kendra Elvina Rosano, Hedza Fadli Robbina, Ilma Ardelia, Ushulil Hidayat, dan Syaqila Putri M. Program ini juga didukung Amelia Said dan Fajar Budiman sebagai konsultan program.
Melalui kolaborasi dengan Universiti Sains Malaysia, FMIPA UI tidak hanya menghadirkan edukasi konservasi mangrove bagi masyarakat pesisir, tetapi juga mendorong penerapan hasil riset ekologi di tingkat komunitas. Kegiatan ini sekaligus memperkuat pengalaman belajar mahasiswa melalui keterlibatan langsung dalam pengabdian masyarakat dan kolaborasi internasional.

Bagikan ini:
Berita Lainnya



