Doktor FMIPA UI Kembangkan Tekstil Antibakteri dari Daun dan Serat Rami

Depok, 6 Agustus 2026 — Tanaman rami selama ini lebih dikenal sebagai sumber serat untuk bahan tekstil. Namun, Muhammad Haekal Habibie, Doktor Program Studi Ilmu Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), mengembangkan pemanfaatan tanaman tersebut lebih jauh. Tidak hanya seratnya yang digunakan sebagai bahan kain, daun rami juga dimanfaatkan untuk menghasilkan partikel berukuran sangat kecil yang dapat memberikan sifat antibakteri pada tekstil.

Inovasi tersebut dikembangkan Haekal melalui penelitian berjudul “Biosintesis Nano Zinc Oxide dalam Komposit Berbasis Daun Rami (Boehmeria nivea L. Gaud) dan Aplikasinya sebagai Tekstil Antibakteri”. Penelitian ini dipaparkan dalam Promosi Doktor FMIPA UI di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, Depok, Senin (13/7/2026).

Dalam penelitiannya, Haekal memanfaatkan ekstrak daun rami untuk membantu menghasilkan partikel zinc oxide berukuran nano. Partikel tersebut kemudian dilekatkan pada kain yang dibuat dari serat rami sehingga menghasilkan tekstil yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri.

“Yang menjadi inovasi utama dalam penelitian ini adalah pemanfaatan satu tanaman rami secara menyeluruh. Seratnya digunakan sebagai bahan tekstil, sementara daunnya dimanfaatkan untuk membantu pembentukan bahan antibakteri,” ujar Haekal.

Menurut dia, pendekatan tersebut membuka peluang pemanfaatan rami sebagai bahan baku tekstil fungsional yang tidak hanya mengandalkan bahan sintetis atau material dari luar negeri.

Rami merupakan salah satu tanaman yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber daya hayati lokal. Seratnya kuat, mampu menyerap kelembapan, dapat terurai secara alami, dan memiliki kemampuan alami dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Sementara itu, daun rami mengandung senyawa fitokimia yang dapat membantu proses pembentukan dan menjaga kestabilan nanopartikel zinc oxide.

Dalam penelitian ini, Haekal mengoptimalkan proses pembuatan nanopartikel zinc oxide dengan mengatur nilai pH larutan dan konsentrasi prekursor yang digunakan. Hasilnya, kondisi terbaik diperoleh pada pH larutan 8 dan konsentrasi prekursor 1 M.

Nanopartikel yang dihasilkan kemudian dilekatkan pada kain rami melalui proses pencelupan (dip-coating) dengan bantuan binder sebagai bahan pengikat agar nanopartikel dapat menempel lebih kuat pada permukaan kain. Proses modifikasi kain ini dilakukan pada mesin sonikasi agar nanopartikel tersebar secara merata.

Hasil penelitian menunjukkan, perbandingan binder dengan nanopartikel zinc oxide sebesar 1:20 memberikan hasil terbaik. Pada kondisi tersebut dihasilkan zona hambat rata-rata sebesar 19,32 milimeter terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Secara umum, kain rami termodifikasi zinc oxide yang dihasilkan pada riset ini menghasilkan aktivitas antibakteri yang lebih baik terhadap bakteri Gram positif dibandingkan bakteri Gram negatif.

“Riset ini menunjukkan bahwa bahan alam lokal dapat dikembangkan menjadi produk dengan fungsi yang lebih tinggi. Rami tidak hanya berhenti sebagai komoditas serat, tetapi dapat dikembangkan menjadi material tekstil fungsional untuk kebutuhan kesehatan,” kata Haekal.

Inovasi tersebut juga berpotensi mendukung penguatan industri tekstil berbasis bahan baku lokal. Selama ini, pengembangan tekstil fungsional masih banyak menggunakan material dan teknologi tertentu yang tidak seluruhnya berasal dari sumber daya dalam negeri.

Dengan memanfaatkan serat dan daun rami, penelitian ini menawarkan pendekatan yang lebih terintegrasi. Bahan baku tekstil dan bahan untuk menghasilkan material antibakteri diperoleh dari tanaman yang sama.

Ke depan, hasil penelitian ini berpotensi dikembangkan untuk berbagai produk tekstil medis sekali pakai, seperti perban, plester, masker, dan produk kesehatan lainnya.

“Harapannya, hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan tekstil antibakteri berbasis sumber daya lokal yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Pengembangan lebih lanjut juga diperlukan agar material ini dapat diterapkan pada produk medis secara lebih luas,” ujar Haekal.

Penelitian ini dilakukan di bawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Vivi Fauzia, M.Si., dari Departemen Fisika FMIPA UI, serta Ko-Promotor Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti, Ph.D., dari Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Muhammad Haekal Habibie menyelesaikan studi doktoralnya dalam delapan semester dengan IPK 3,83 dan predikat cum laude. Promosi doktor dipimpin Ketua Sidang Prof. Dr. Ivandini Tribidasari Anggraningrum, S.Si., M.Si., Wakil Dekan II FMIPA UI.

Bagikan ini:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Email
Tumblr
Telegram
Print

Berita Lainnya