|
Depok, 6 Oktober 2026 – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menghadirkan perspektif industri pertambangan dalam pembelajaran kebumian melalui Universitas Indonesia Geoscience Seminar (UIGS) x Starborn Mengajar 2026 yang digelar Program Studi Geologi dan Program Studi Geofisika FMIPA UI. Mengangkat tema “Best Practice Exploration in Mineral Industry”, UIGS kali ini membahas proses eksplorasi mineral, mulai dari pemahaman geologi hingga perencanaan biaya untuk menemukan endapan yang bernilai ekonomi.
Seminar diselenggarakan secara daring melalui ZOOM Meeting pada Senin (5/10/2026), dengan menghadirkan Deputy Chief Geoscience Officer PT. Merdeka Copper Gold Tbk., Arief Bastian, M.T., sebagai pembicara, dan dipandu oleh Ayunda Aulia Valencia, S.T., M.T. sebagai moderator.
Arief merupakan lulusan sarjana dan magister Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan pengalaman lebih dari 19 tahun dalam eksplorasi dan pengembangan sumber daya mineral emas, tembaga, dan nikel di Asia. Ia juga berpengalaman mengelola program eksplorasi berskala besar hingga Mineral Resource Estimation (MRE) berdasarkan standar JORC, NI 43-101, dan KCMI.
Dalam pemaparannya, Arief mengawali pembahasan dari dasar-dasar geologi, termasuk prinsip “The present is the key to the past”, skala waktu geologi, dan teori tektonik lempeng. Materi kemudian mencakup siklus batuan serta tiga jenis batuan utama, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf, sebagai dasar memahami proses pembentukan endapan mineral.
Salah satu proses pembentukan endapan yang dibahas adalah sistem hidrotermal. Arief menjelaskan bahwa fluida panas dapat berinteraksi dengan batuan di sekitarnya sehingga menyebabkan perubahan atau alterasi pada batuan. Fenomena tersebut dapat dianalogikan dengan sistem hidrotermal aktif yang ditemukan pada kawah gunung api.
Ia juga memaparkan model konseptual endapan porfiri dan epitermal. Model tersebut menjelaskan keterkaitan antara zona subduksi, intrusi magma porfiri, dan pembentukan mineralisasi emas dan tembaga (Cu-Au) berdasarkan variasi suhu dan tekanan.
Sementara pada komoditas nikel, Arief mengajak peserta melihat proses geologi yang terjadi di kawasan lengan tenggara Sulawesi melalui contoh SCM Nickel Project. Ia menjelaskan bagaimana proses obduksi dan kompleks akresi berperan dalam penempatan ofiolit, hingga terbentuknya profil pelapukan nikel laterit yang terdiri atas ferricrete, limonit, saprolit, saprock, dan batuan dasar (bedrock).
“Memahami konteks geologi menjadi bagian penting sebelum menentukan bagaimana eksplorasi dilakukan,” jelas Arief dalam pemaparannya.

Pembahasan kemudian beralih pada metode dan tahapan eksplorasi mineral. Menurutnya ada Tiga pendekatan utama yang perlu dilakukan sebelum memulai eksplorasi, meliputi pemetaan geologi, survei geofisika, dan pengambilan sampel geokimia.
“Untuk menentukan target eksplorasi, perlu menggabungkan beberapa pendekatan, mulai dari pemetaan geologi untuk melihat litologi, alterasi, dan struktur, kemudian menggunakan geofisika, seperti magnetik, resistivitas, dan chargeability, untuk melihat kondisi bawah permukaan. Setelah itu, kita lengkapi dengan data geokimia dari tanah, batuan, atau sedimen sungai. Jadi, semua data ini saling melengkapi untuk mempersempit area pencarian dan menentukan target yang paling prospektif,” jelas Arief.
Dari sisi pembiayaan, Arief menjelaskan bahwa exploration expenditure disusun untuk meminimalkan risiko, dengan pemboran (drilling) menjadi salah satu komponen biaya terbesar. Sebagai ilustrasi, penemuan endapan emas sebesar 2 juta ons (2 Moz) dapat membutuhkan biaya eksplorasi sekitar US$20–US$50 per ons, atau sekitar US$40 juta–US$100 juta, dengan pemboran sepanjang 100–250 kilometer selama tiga hingga lima tahun.
Eksplorasi tersebut dilakukan bertahap melalui Early Exploration selama satu tahun, Advanced Exploration selama satu tahun, dan Resource Definition selama dua hingga tiga tahun. Rangkaian tahapan ini bertujuan untuk meningkatkan keyakinan terhadap sumber daya, dari kategori Inferred menuju Measured & Indicated.
Bagi mahasiswa FMIPA UI, seminar ini memberikan gambaran mengenai bagaimana ilmu kebumian yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan dalam praktik eksplorasi mineral. Pemahaman geologi, pemanfaatan teknologi eksplorasi, hingga perencanaan pembiayaan menjadi bagian yang saling berkaitan dalam menentukan keberhasilan eksplorasi. Dengan demikian, mahasiswa dapat melihat bahwa untuk mengubah potensi geologi menjadi sumber daya mineral yang bernilai, dibutuhkan tidak hanya pemahaman ilmiah, tetapi juga kemampuan mengolah data, memilih strategi eksplorasi, serta mempertimbangkan aspek teknis dan ekonominya.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



