|
Riset FMIPA UI Buka Peluang Baru Deteksi Kanker Kolorektal lewat Protein Pengatur Sel
Depok, 3 Agustus 2026 — Upaya menemukan cara baru untuk memahami dan mendeteksi kanker kolorektal terus dilakukan seiring tingginya beban penyakit tersebut di Indonesia. Salah satu inovasi yang dikembangkan peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) adalah pemanfaatan protein yang mengatur lalu lintas berbagai komponen di dalam sel sebagai kandidat penanda biologis atau biomarker kanker kolorektal.
Potensi tersebut terungkap melalui riset Selly Setiati Rajagukguk yang dipaparkan dalam promosi doktor Program Studi Biologi FMIPA UI, Jumat (10/7/2026), di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, Depok. Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi FMIPA UI dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengingat sebagian besar kegiatan penelitian dilaksanakan di fasilitas riset BRIN. Selly menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam enam semester dengan IPK 3,90 dan predikat cumlaude.
Dalam disertasinya yang berjudul Studi Secretory Carrier Membrane Protein 3 (SCAMP3) pada Kanker Kolorektal: Ekspresi, Pengeditan Gen dengan CRISPR/Cas9 dan Deteksi dengan Antibodi Monoklonal, Selly mengkaji keberadaan, fungsi, dan cara mendeteksi protein tersebut pada sel kanker kolorektal.
Protein yang menjadi fokus penelitian itu berperan dalam mengatur perpindahan, pengiriman, dan daur ulang berbagai komponen di dalam sel. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa peningkatan kadar protein tersebut berkaitan dengan perkembangan beberapa jenis kanker.
“Protein ini sebelumnya telah dikaitkan dengan sejumlah jenis kanker, tetapi kajian eksperimental mengenai perannya pada kanker kolorektal masih terbatas. Karena itu, penelitian ini berupaya melihatnya secara lebih menyeluruh, mulai dari produksinya, keberadaannya pada sel kanker, hingga pengujian fungsinya,” ujar Selly.

Riset tersebut menjadi relevan di tengah tingginya angka kejadian kanker kolorektal. Berdasarkan data Globocan 2022 yang digunakan dalam penelitian, lebih dari 35.000 kasus baru dan lebih dari 19.000 kematian akibat kanker kolorektal tercatat di Indonesia.
Kondisi itu menunjukkan pentingnya pengembangan pendekatan baru untuk mendukung deteksi dan pemahaman terhadap kanker kolorektal. Terlebih, metode pemeriksaan yang selama ini digunakan, seperti endoskopi dan pemeriksaan tinja, memiliki keterbatasan tertentu sehingga pencarian biomarker alternatif terus dilakukan.
Selly kemudian menguji apakah protein pengatur sel tersebut juga memiliki peran pada kanker kolorektal. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kadar protein itu pada sel kanker kolorektal lebih tinggi dibandingkan sel normal.
Penelitian tidak berhenti pada pengamatan kadar protein. Selly juga menguji pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup sel kanker menggunakan teknologi CRISPR/Cas9. Teknologi ini dimanfaatkan untuk menonaktifkan gen yang menghasilkan protein tersebut sehingga perubahan pada sel dapat diamati.
Ketika produksi protein ditekan, kemampuan hidup sel kanker mengalami penurunan. Salah satu konstruksi pengeditan gen, sgRNA90, memberikan dampak paling kuat. Sel juga mengalami perubahan bentuk secara bertahap setelah perlakuan hingga akhirnya mengalami kematian.
“Ketika ekspresi protein ini ditekan, kami melihat adanya perubahan pada kondisi dan kemampuan hidup sel kanker. Temuan ini memperlihatkan bahwa protein tersebut tidak hanya berpotensi digunakan sebagai penanda kanker kolorektal, tetapi juga layak dikaji lebih lanjut sebagai target dalam pengembangan terapi,” kata Selly.

Untuk mendukung proses deteksi, penelitian tersebut juga menghasilkan antibodi monoklonal anti-SCAMP3. Antibodi ini dirancang untuk mengenali protein pengatur sel tersebut secara spesifik.
Antibodi monoklonal klon D8 yang dikembangkan melalui teknologi hibridoma berhasil mengenali protein tersebut dalam sejumlah pengujian. Hasil itu diperoleh melalui metode ELISA, Western blot, dan imunofluoresensi.
Sederhananya, antibodi monoklonal bekerja seperti alat pengenal khusus yang dirancang untuk menemukan target tertentu. Dalam penelitian ini, target tersebut adalah protein yang dikaji pada sel kanker.
Selain mengembangkan antibodi, Selly juga menghasilkan protein yang diteliti melalui dua sistem produksi, yakni bakteri Escherichia coli dan organisme Bombyx mori. Penggunaan kedua sistem tersebut memungkinkan peneliti membandingkan pendekatan produksi protein untuk mendukung kajian lebih lanjut terhadap protein membran tersebut.
Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra, M.Si., memimpin sidang promosi doktor Selly. Adapun penelitian tersebut dibimbing Promotor Prof. Anom Bowolaksono, Ph.D. (FMIPA UI), serta Ko-Promotor Sabar Pambudi, Ph.D. (Badan Riset dan Inovasi Nasional), dan Astari Dwiranti, M. Eng., Ph.D. (FMIPA UI).

Temuan mengenai protein tersebut masih memerlukan pengujian lanjutan sebelum dapat diterapkan dalam layanan kesehatan. Penelitian berikutnya diperlukan untuk mengungkap cara kerja protein tersebut secara lebih rinci, memastikan ketepatan teknologi pengeditan gen, serta menguji kemampuan antibodi anti-SCAMP3 pada model kanker kolorektal yang lebih luas.
Meski demikian, riset tersebut memberikan dasar bagi pengembangan penelitian biomarker kanker berbasis teknologi biologi molekuler di Indonesia. Integrasi produksi protein, pengeditan gen, dan pengembangan antibodi juga memperlihatkan peluang pendekatan multidisiplin dalam mencari strategi baru menghadapi kanker kolorektal.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset nasional dalam menghasilkan inovasi di bidang biologi molekuler. Kolaborasi FMIPA UI dan BRIN memungkinkan pemanfaatan fasilitas penelitian yang lebih lengkap untuk mendukung pengembangan biomarker dan strategi deteksi kanker kolorektal di Indonesia.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



