|
Riset FMIPA UI Temukan Senyawa Baru dari Tumbuhan Endemik Sumatera yang Aktif Melawan Sel Kanker Payudara
Depok, 21 Juli 2026 — Kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, termasuk di Indonesia. Di tengah kebutuhan untuk mengembangkan pengobatan yang lebih efektif dan aman, eksplorasi kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber bahan obat terus dilakukan. Salah satunya melalui penelitian doktoral di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) yang menemukan senyawa baru dari tumbuhan endemik Sumatera yang berpotensi melawan sel kanker payudara.
Temuan tersebut diungkapkan Megawati dalam Promosi Doktor Program Studi Ilmu Kimia FMIPA UI yang berlangsung di Aula Prof. G.A. Siwabessy FMIPA UI, Depok, Senin, 6 Juli 2026. Ia mempertahankan disertasi berjudul “Metabolit Sekunder dari Fraksi Etil Asetat Daun Horsfieldia macrothyrsa (Miq.) Warb. dan Aktivitas Sitotoksiknya terhadap Sel Kanker Payudara MCF-7 secara In Vitro”.
Megawati menyelesaikan studi doktoralnya dengan IPK 3,96 dan meraih predikat Summa Cumlaude. Sidang promosi doktor dipimpin oleh Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra, M.Si. Penelitian tersebut dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Sumi Hudiyono PWS dari Departemen Kimia FMIPA UI dan Ko-Promotor Dr. Akhmad Darmawan, M.Si. dari Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Penelitian ini berangkat dari tantangan penanganan kanker yang masih dihadapi masyarakat. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang banyak ditemukan pada perempuan. Di sisi lain, pengobatan yang tersedia masih menghadapi tantangan berupa efek samping dan menurunnya efektivitas obat pada sebagian pasien,” kata Megawati di hadapan para penguji.
Kondisi tersebut mendorong pencarian kandidat obat baru, termasuk dari bahan alam. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar, tetapi masih banyak tumbuhan yang belum diteliti dan dikembangkan potensinya untuk mendukung bidang kesehatan.

Tumbuhan yang dikaji dalam penelitian ini adalah Horsfieldia macrothyrsa (Miq.) Warb., tumbuhan endemik Pulau Sumatera dari keluarga pala-palaan. Sebelum penelitian ini dilakukan, informasi mengenai kandungan dan manfaat biologis tumbuhan tersebut masih sangat terbatas.
“Indonesia memiliki kekayaan tumbuhan yang sangat besar, tetapi masih banyak yang belum diteliti secara mendalam. Penelitian ini menunjukkan bahwa tumbuhan endemik seperti H. macrothyrsa masih memiliki peluang untuk menghasilkan temuan baru yang berpotensi dikembangkan bagi kesehatan,” ungkapnya.
Penelitian dilakukan terhadap daun H. macrothyrsa yang berasal dari hutan Sumatera dan menjadi bagian dari koleksi hidup Kebun Raya Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Melalui serangkaian proses pemisahan dan pengujian, Megawati berhasil memperoleh enam senyawa dari daun tumbuhan tersebut.
Enam senyawa tersebut kemudian dipelajari untuk mengetahui struktur dan sifatnya. Hasil penelusuran berbagai referensi ilmiah menunjukkan bahwa salah satu senyawa yang ditemukan belum pernah dilaporkan sebelumnya sehingga dapat dikategorikan sebagai senyawa baru.
“Penemuan senyawa baru menjadi salah satu hasil penting dalam penelitian ini. Temuan tersebut menambah informasi mengenai kandungan alami H. macrothyrsa dan membuka peluang untuk mengkaji lebih lanjut manfaatnya,” ujarnya.
Selanjutnya, keenam senyawa tersebut diuji untuk melihat kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan sel kanker payudara. Hasilnya menunjukkan empat senyawa memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan sel kanker payudara dalam tingkat yang berbeda.

Pada saat yang sama, seluruh senyawa yang diuji tidak menunjukkan efek beracun terhadap sel normal (Sel vero) yang digunakan sebagai pembanding. Temuan ini menjadi indikasi awal bahwa senyawa-senyawa tersebut berpotensi memiliki pengaruh yang lebih selektif terhadap sel kanker.
“Temuan bahwa senyawa-senyawa tersebut dapat menghambat pertumbuhan sel kanker payudara, tetapi tidak menunjukkan efek beracun terhadap sel normal, menjadi hasil yang penting untuk diteliti lebih lanjut,” kata Megawati.
Penelitian tersebut juga dilakukan untuk mempelajari kemungkinan cara senyawa-senyawa tersebut berinteraksi dengan bagian tertentu di dalam sel kanker. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa senyawa memiliki karakteristik yang mendukung dugaan adanya aktivitas antikanker.
Meski demikian, Megawati menegaskan bahwa temuan tersebut masih merupakan tahap awal. Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memahami cara kerja senyawa secara lebih mendalam serta menguji keamanan dan efektivitasnya melalui tahapan penelitian berikutnya.
“Penelitian ini merupakan langkah awal untuk mengenali potensi H. macrothyrsa sebagai sumber bahan alami untuk pengembangan kandidat obat antikanker. Masih diperlukan penelitian lanjutan sebelum temuan ini dapat dikembangkan lebih jauh,” imbuhnya.
Melalui penelitian ini, FMIPA UI turut memperkaya kajian mengenai pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di bidang kesehatan. Selain menghasilkan temuan senyawa baru, penelitian ini juga memberikan informasi awal mengenai potensi tumbuhan endemik Sumatera sebagai sumber bahan alami untuk pengembangan kandidat obat antikanker payudara.
Temuan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya riset berkelanjutan untuk mengubah kekayaan hayati Indonesia menjadi pengetahuan dan inovasi yang dapat mendukung upaya pengembangan kesehatan nasional.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



