|
Guru Besar FMIPA UI Gaungkan Riset Ragi Nusantara, dari Biodiversitas hingga Inovasi Pangan
Depok, 16 September 2026 — Upaya mengembalikan keanekaragaman tempe Nusantara terus dikembangkan melalui riset ragi tempe oleh Prof. Wellyzar Sjamsuridzal dan tim dari PUIPT CoE IBR-GS / Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI). Terbaru, Prof. Wellyzar memperluas pembahasan dan pengenalan riset tersebut kepada publik dan pemangku kepentingan melalui diskusi “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan” di Gedung ANTARA Heritage, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
Keterlibatan Prof. Wellyzar dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas diseminasi hasil penelitian kepada masyarakat sekaligus mempertemukan riset dengan pemangku kepentingan yang dapat mendukung pengembangannya (kolaborasi kuadrupleks helix). Dengan demikian, riset mengenai ragi tempe tidak hanya berbicara mengenai mikroorganisme dan proses fermentasi, tetapi juga mengenai upaya menjaga pelestarian kekayaan warisan kuliner tempe Nusantara sekaligus membuka peluang pemanfaatannya sebagai inovasi pangan.
Dalam forum tersebut, Prof. Wellyzar kembali menjelaskan pentingnya keanekaragaman mikroorganisme dalam menentukan karakter dan cita rasa tempe. Dahulu saat pembuatan tempe menggunakan ragi tradisional, rasa tempe berbeda-beda antar daerah, di antaranya kita mengenal ada tempe Malang, tempe Bandung, tempe Purwokerto, dan lain-lain. Namun sejak masifnya komersialisasi ragi tempe di Indonesia sejak awal tahun 2000, rasa tempe menjadi seragam di semua daerah dan terjadi penurunan keanekaragaman jenis Rhizopus tempe (diversity lost). Hal tersebut disebabkan karena ragi tempe komersial hanya menggunakan satu jenis Rhizopus. Padahal ragi tempe tradisional melibatkan beragam jenis Rhizopus,” ujar Prof. Wellyzar.
Menurut Prof. Welly, berkurangnya keragaman Rhizopus dalam ragi tempe turut berpengaruh terhadap cita rasa tempe yang beredar saat ini. Indonesia memiliki kekayaan hayati yang tinggi, baik dari bahan baku, pembungkus, maupun jenis ragi tempe yang digunakan.
Riset yang dilakukannya bersama tim mengeksplorasi beragam spesies Rhizopus untuk mengembangkan inovasi ragi tempe yang dapat mengatasi kegagalan fermentasi tempe dan menghadirkan kembali keragaman karakter dan cita rasa tempe Nusantara yang hilang.
Riset tersebut merupakan bagian dari penelitian berjudul “Inovasi Ragi Tempe Adaptif sebagai Solusi Teknologi Tepat Guna bagi Perajin Tempe dalam Menghadapi Anomali Cuaca dan Meningkatkan Cita Rasa Tempe Indonesia”. Penelitian ini dikembangkan tidak hanya untuk memperkaya keanekaragaman ragi, tetapi juga menghasilkan ragi yang adaptif terhadap kondisi lingkungan sehingga proses produksi tempe di tingkat perajin tempe UMKM dapat lebih stabil.
Pentingnya pengembangan inovasi tempe juga disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. “Tempe memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas strategis dalam mendukung ketahanan pangan, sementara inovasi produk berbasis tempe di Indonesia masih terbatas. Inovasi-inovasi di dalam dunia tempe ini memang masih relatif terbatas jenisnya, paling-paling kripik dan botok,” ujar Fauzan.
Dari sisi pengembangan sains dan teknologi, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Prof. Dr. Eng. Yudi Darma mengatakan riset ragi tempe yang memanfaatkan kekayaan kapang Rhizopus asli Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pengembangan teknologi biologis, tetapi juga menjawab persoalan yang dihadapi perajin.
Diseminasi di Gedung ANTARA Heritage menjadi momentum lanjutan bagi Prof. Wellyzar untuk memperkenalkan perkembangan riset tersebut kepada khalayak yang lebih luas. Jika sebelumnya penelitian dikembangkan dalam konteks riset dan pengembangan teknologi tepat guna, forum kali ini mempertemukan aspek ilmiah tersebut dengan pembahasan mengenai biodiversitas, ketahanan pangan, budaya kuliner, hingga peluang pengembangan hasil riset pada skala industri.
“Ragi Nusantara” juga mempertemukan peneliti FMIPA UI dengan mitra industri FKS Multi Agro dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai pendukung pendanaan riset. Keterlibatan para pemangku kepentingan tersebut menjadi perkembangan penting dalam perjalanan penelitian karena hasil riset mulai diarahkan untuk dapat dikembangkan lebih lanjut menuju skala komersial.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Prof. Ahmad Najib Burhani mengatakan, kekayaan mikroba Indonesia merupakan bagian dari kekayaan biodiversitas nasional yang perlu dijaga, sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan pangan. ragi tempe perlu dilindungi sebagai aset kedaulatan biologis Indonesia, guna mencegah pencurian genetik (biopiracy), agar warisan peradaban itu bisa dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat Indonesia tanpa hambatan pihak lain. Kolaborasi antara UI dan FKS Group memberikan kesempatan bagi para periset untuk memahami persoalan secara langsung di lapangan. “Inovasi tidak akan membumi tanpa dukungan ekosistem industri yang sehat,” ujar Ahmad Najib.
Riset Wellyzar dan tim menjadi salah satu penelitian yang didanai oleh Program Ekosistem Hidup (Living Lab) Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) 2026 yang memperoleh pendanaan LPDP. Sementara itu, sebagai mitra utama, PT FKS Multi Agro, Tbk. memberikan dukungan pendanaan untuk membantu proses scale up dan uji coba hasil penelitian pada perajin tempe UMKM. Saat diseminasi berlangsung, penelitian telah memasuki bulan keempat dari durasi pendanaan selama satu tahun.
Kepala Divisi Penyaluran Riset LPDP Dhani Setyawan mengatakan, keterlibatan industri dalam pengembangan riset diperlukan agar hasil penelitian perguruan tinggi dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas.
“Kami ingin mendorong pembuatan skema bagaimana industri bisa chip in. Kalau kita bisa membangun skema pendanaan riset sesuai kebutuhan industri, maka LPDP bisa top up di situ,” ujar Dhani.
Dukungan tersebut membuka peluang bagi hasil penelitian FMIPA UI untuk tidak berhenti pada pengembangan di tingkat riset, tetapi dilanjutkan melalui proses pengembangan produk bersama mitra industri.
VP Commercial FKS Group Yanuar Samron mengatakan, tempe memiliki posisi strategis karena telah menjadi bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat Indonesia.
“Tempe adalah salah satu ikon budaya yang sangat melekat di masyarakat. Jadi, kita bangun keroyokan untuk menjadi pilar bangsa,” ujar Yanuar.
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar mengatakan, pembahasan mengenai ketahanan pangan juga menjadi bagian dari peran media dalam mengawal isu strategis bangsa.
“Bagi kami, bagi ANTARA, ketahanan pangan bukan sekadar isu ekonomi atau pertanian. Ketahanan pangan adalah isu strategis bangsa yang perlu terus dikawal melalui informasi yang akurat, berimbang dan mencerahkan,” ujar Benny.
Melalui pengembangan ragi yang memanfaatkan keragaman Rhizopus asli Indonesia, riset tersebut diarahkan untuk menjaga keberagaman tempe sekaligus menjawab tantangan produksi di tengah perubahan kondisi lingkungan. Pengembangan ini menunjukkan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia dapat menjadi sumber inovasi pangan yang tidak hanya bernilai secara ilmiah, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



