Guru Besar FMIPA UI: Menjaga Keseimbangan Mikrobiota Usus Kunci Kesehatan dan Kualitas Hidup

Depok, 4 Juni 2026 — Kesehatan saluran pencernaan tidak hanya berperan dalam proses penyerapan nutrisi, tetapi juga memengaruhi sistem kekebalan tubuh, metabolisme, hingga kesehatan mental. Karena itu, menjaga keseimbangan mikrobiota usus melalui konsumsi probiotik secara rutin menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung kesehatan secara menyeluruh.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Ilmu Sistematika dan Prospeksi Mikroorganisme FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, Ph.D., dalam paparannya pada acara peluncuran varian rasa baru Yakult yang diselenggarakan di Grand Indonesia, Jakarta pada Senin, 25 Mei 2026.

“Masyarakat perlu menyadari pentingnya menjaga keseimbangan mikrobiota usus dengan rutin mengonsumsi probiotik setiap hari. Langkah ini sangat baik dalam membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan, sehingga kebugaran tubuh tetap terjaga dan setiap orang dapat menikmati hidup dengan lebih bahagia,” ujar Prof. Wellyzar.

Dalam pemaparannya, Prof. Wellyzar menjelaskan bahwa tubuh manusia merupakan rumah bagi triliunan mikroorganisme. Bahkan, jumlah sel mikroorganisme yang hidup di dalam tubuh kita diperkirakan 10 kali lebih banyak dibandingkan jumlah sel tubuh kita sendiri. Sebagian besar mikroorganisme tersebut berada di saluran pencernaan dan membentuk komunitas kompleks yang dikenal sebagai mikrobiota usus.

Menurutnya, mikrobiota usus terdiri atas beragam mikroorganisme, mulai dari bakteri, archaea, virus, hingga jamur. Ekosistem ini memiliki peran penting dalam membantu pencernaan makanan, memproduksi vitamin, mengatur metabolisme, dan mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh.

“Saluran pencernaan manusia menjadi rumah bagi komunitas mikroorganisme yang sangat kompleks dan dinamis. Mikroorganisme ini memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan dan kualitas hidup manusia,” katanya.

Prof. Wellyzar menambahkan, mengingat jumlahnya mikrobiota usus yang begitu besar, mikrobiota usus kerap disebut sebagai “genom kedua” manusia karena secara kolektif mengkode lebih dari 3 juta gen150 kali lebih banyak daripada jumlah gen manusia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mikrobiota usus berperan sangat penting dalam metabolisme nutrisi, pematangan sistem imun, hingga komunikasi meuroendokrin antara usus dan otak yang dikenal sebagai gut-brain axis.

Peran mikrobiota usus tidak hanya berkaitan dengan pencernaan, tetapi juga berdampak pada berbagai aspek fisiologis tubuh, seperti regulasi sistem imun, perlindungan terhadap patogen, pemeliharaan lapisan usus, pengaturan hormon, fungsi saraf, dan kesehatan organ-organ lain.

Lebih lanjut, Prof. Wellyzar menjelaskan bahwa probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang apabila dikonsumsi dalam jumlah cukup dapat memberikan manfaat kesehatan dengan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen.

Jumlah mikroorganisme baik di dalam tubuh cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Karena itu, kebutuhan probiotik perlu dipenuhi melalui pola makan sehari-hari, baik dari makanan maupun minuman yang mengandung probiotik dan prebiotik.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi probiotik secara rutin dapat membantu mencegah dan mengurangi diare infeksius, menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan atas, memperbaiki fungsi pencernaan dan metabolisme, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan mendukung kesehatan mental.

Selain berasal dari produk probiotik yang telah dikembangkan secara khusus, mikroorganisme bermanfaat tersebut juga dapat diperoleh dari berbagai pangan fermentasi tradisional yang mengandung probiotik. Menurut Prof. Wellyzar, makanan fermentasi memiliki beragam manfaat kesehatan, mulai dari memperbaiki fungsi pencernaan, memperkuat sistem imun, meningkatkan kesehatan usus, hingga membantu menurunkan risiko penyakit kronis.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya mengenali kondisi kesehatan pencernaan melalui indikator sederhana. Salah satunya adalah dengan memperhatikan bentuk dan konsistensi feses menggunakan Bristol Stool Scale (BSS), yang banyak digunakan dalam dunia medis untuk menilai fungsi usus dan mendeteksi gangguan seperti konstipasi maupun diare.

Untuk memperoleh manfaat optimal, Prof. Wellyzar menyarankan agar probiotik dikonsumsi secara rutin setiap hari dalam jangka panjang. Konsumsi probiotik bersama atau setelah makan dinilai dapat membantu meningkatkan viabilitas mikroorganisme tersebut saat melewati saluran pencernaan.

“Menjaga kesehatan usus pada akhirnya bukan hanya soal menghindari gangguan pencernaan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan,” ujar Prof. Wellyzar.

Seiring meningkatnya perhatian terhadap upaya pencegahan penyakit, kesehatan usus menjadi salah satu aspek yang semakin mendapat perhatian para peneliti. Prof. Wellyzar menilai, kesehatan pencernaan merupakan salah satu fondasi penting bagi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Karena itu, peningkatan literasi masyarakat mengenai peran mikrobiota usus dan pentingnya menjaga keseimbangannya menjadi langkah penting untuk mendukung kualitas hidup yang lebih baik di masa mendatang.

“Pemahaman yang lebih baik mengenai peran mikrobiota usus diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan pencernaan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup,” tuturnya sebagai penutup.

Bagikan ini:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Email
Tumblr
Telegram
Print

Berita Lainnya