|
Depok, 8 Juli 2026 — Radioiodin (I-131) telah lama menjadi bagian penting dalam pengobatan penyakit tiroid, termasuk kanker tiroid. Namun, di balik manfaatnya, paparan zat radioaktif tersebut masih menyimpan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap organ tubuh yang tidak menjadi sasaran pengobatan.
Hal itu menjadi fokus penelitian doktoral Harry Nugroho Eko Surniyantoro dari Program Studi Doktor Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI). Melalui disertasi berjudul Studi Stres Oksidatif, Kerusakan DNA, dan Respons Imun pada Tikus Pascapaparan I-131 Oral, ia mengkaji bagaimana radioiodin memengaruhi tubuh setelah masuk melalui saluran pencernaan.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan radioiodin tidak hanya berdampak pada kelenjar tiroid sebagai organ sasaran terapi, tetapi juga memengaruhi lambung dan usus halus yang berperan dalam menyerap zat tersebut.

Untuk memahami dampaknya secara menyeluruh, Harry meneliti berbagai perubahan yang terjadi di dalam tubuh, mulai dari respons sistem kekebalan tubuh, peningkatan zat yang dapat merusak sel akibat stres oksidatif, kerusakan materi genetik (DNA), kematian sel yang terjadi secara alami sebagai mekanisme perlindungan tubuh, hingga perubahan struktur jaringan pada organ.
“Selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada manfaat radioiodin untuk mengobati penyakit tiroid. Padahal, organ lain yang ikut terpapar juga perlu dipahami agar risiko terapinya dapat dikelola dengan lebih baik,” ujar Harry.
Menurut Harry, penelitian mengenai radioiodin selama ini lebih banyak berfokus pada keberhasilannya menghancurkan sel kanker atau jaringan tiroid. Sementara itu, dampak paparan radioiodin terhadap organ sehat di luar target terapi masih belum banyak dipahami.

Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah untuk mengembangkan cara mengurangi efek samping terapi radioiodin sekaligus meningkatkan keselamatan pasien maupun tenaga kesehatan yang bekerja di bidang kedokteran nuklir.
“Kami berharap penelitian ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan strategi yang mampu mengurangi efek samping terapi radioiodin tanpa mengurangi manfaat pengobatannya,” kata Harry.
Penelitian ini juga menghadirkan sejumlah kebaruan. Salah satunya ialah penggunaan larutan radioiodin produksi Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang belum pernah dimanfaatkan dalam penelitian serupa. Berbeda dengan sebagian besar penelitian sebelumnya yang menggunakan suntikan atau percobaan pada kultur sel, Harry memberikan radioiodin melalui mulut sehingga lebih menyerupai prosedur terapi yang dijalani pasien. Pendekatan tersebut dinilai menghasilkan gambaran yang lebih mendekati kondisi nyata.

Selain itu, penelitian ini menjadi salah satu studi awal yang mengamati berbagai dampak paparan radioiodin secara bersamaan, mulai dari respons sistem kekebalan tubuh, peningkatan zat yang dapat merusak sel, kerusakan materi genetik, kematian sel secara alami, hingga perubahan struktur jaringan. Penelitian juga tidak hanya berfokus pada kelenjar tiroid sebagai sasaran terapi, tetapi turut mengkaji lambung dan usus halus yang berperan penting dalam penyerapan radioiodin sehingga memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai dampak zat tersebut terhadap organ-organ sehat.
Harry Nugroho Eko Surniyantoro mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor yang berlangsung di Aula Prof. G.A. Siwabessy FMIPA UI, Depok, pada 24 Juni 2026. Ia menyelesaikan studi doktor dalam enam semester dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00 dan meraih predikat Summa Cum Laude. Harry Nugroho Eko Surniyantoro, yang juga telah menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Biologi serta program magister di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, memulai kariernya sebagai peneliti pada 2010 di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Sidang promosi dipimpin Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra, M.Si., dengan Promotor Prof. Dr. Abinawanto, M.Si., serta Ko-promotor Prof. Anom Bowolaksono, Ph.D., dari Departemen Biologi FMIPA UI dan Prof. Dr. Mukh Syaifudin dari Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri, Organisasi Riset Tenaga Nuklir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Bagikan ini:
Berita Lainnya



