|
Kekayaan Geotermal Indonesia Kembali Terungkap, Peneliti FMIPA UI Temukan Mikroba Baru Berpotensi untuk Industri dan Kesehatan
Depok, 13 Mei 2026 — Di tengah suhu ekstrem geiser Cisolok, Sukabumi, tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menemukan spesies baru bakteri termofilik yang mampu hidup pada suhu mendekati titik didih air. Mikroorganisme tersebut diberi nama Thermus javaensis sp. nov. dan telah dipublikasikan dalam jurnal internasional International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology (2026;76:007136).
Penemuan ini menjadi spesies pertama dari genus Thermus yang dideskripsikan dari kawasan geotermal Indonesia. Nama “javaensis” diambil dari Pulau Jawa, lokasi tempat bakteri tersebut pertama kali ditemukan.
Penelitian dipimpin oleh Prof. Dra. Wellyzar Sjamsuridzal, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Ilmu Sistematika dan Prospeksi Mikroorganisme FMIPA UI, bersama Dr. Fitria Ningsih, S.Si., M.Eng., Dr. Mazytha K. Rachmania, M.Si., dan Dhian Chitra Ayu Fitria Sari, M.Si. Penelitian ini melibatkan Yasunori Ichihashi, Ph.D. dan Shuhei Yabe, Ph.D. dari RIKEN, serta Prof. Song-Gun Kim, Ph.D. dari KRIBB, Korea Selatan, sebagai kolaborator internasional.
Bertahan hidup di suhu ekstrem
Bakteri Thermus javaensis ditemukan dari serasah daun di sekitar semburan geiser Cisolok yang bersuhu mencapai titik didih air (100°C). Untuk dapat tumbuh di lingkungan seperti itu, mikroorganisme harus memiliki kemampuan adaptasi biologis yang tidak dimiliki kebanyakan makhluk hidup lain.
“Penemuan Thermus javaensis menunjukkan bahwa ekosistem geotermal Indonesia merupakan biodiversity hotspot yang menyimpan keanekaragaman mikroorganisme yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap secara ilmiah,” ujar Prof. Wellyzar.
Bakteri ini diketahui mampu tumbuh di laboratorium pada suhu 45–80°C dengan suhu optimum 60–65°C. Secara morfologi, bakteri tersebut berpigmen kuning, bentuk sel batang, dan memiliki struktur unik bernama rotund bodies, yaitu bentuk bulat yang jarang ditemukan pada anggota genus Thermus.
Keberadaan struktur tersebut menarik perhatian peneliti karena sebelumnya juga pernah ditemukan pada Thermus aquaticus, bakteri terkenal penghasil enzim Taq polymerase yang menjadi dasar teknologi PCR—metode penting dalam diagnosis penyakit dan biologi molekuler modern.
Perjalanan riset lebih dari satu dekade
Penemuan ini bukan hasil penelitian singkat. Eksplorasi mikroorganisme di kawasan geiser Cisolok telah dimulai sejak 2012, sementara pengambilan sampel untuk spesies ini dilakukan pada 2015.
Proses identifikasi berlangsung bertahun-tahun melalui tahapan isolasi mikroba, analisis genetik, whole genome sequencing (WGS), hingga karakterisasi biokimia dan mikroskopik di kampus UI maupun di berbagai laboratorium mitra internasional.
Menurut tim peneliti, salah satu tantangan terbesar adalah mempertahankan kultur bakteri termofilik tetap hidup selama proses penelitian karena mikroorganisme ini membutuhkan suhu tinggi dan medium khusus untuk tumbuh optimal.

Dipastikan sebagai spesies baru
Penetapan Thermus javaensis sebagai spesies baru dilakukan melalui pendekatan studi polifasik yang menggabungkan analisis genetik, fisiologi, biokimia, dan kemotaksonomi.
Hasil analisis menunjukkan bakteri ini berbeda secara signifikan dari spesies terdekatnya, baik pada tingkat genom maupun karakter biologis lainnya. Perbedaan tersebut menegaskan bahwa mikroorganisme tersebut bukan sekadar varian, melainkan spesies baru yang sebelumnya belum pernah dideskripsikan di dunia ilmiah.
Dengan penemuan ini, jumlah spesies dalam genus Thermus kini bertambah menjadi 26 spesies sejak genus tersebut pertama kali diperkenalkan pada 1969.
Potensi untuk industri dan kesehatan
Selain penting bagi ilmu dasar mikrobiologi, Thermus javaensis juga dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan bioteknologi.
Analisis genom menunjukkan bakteri ini berpotensi menghasilkan enzim termostabil yang tahan panas dan dapat digunakan dalam proses industri bersuhu tinggi. Peneliti juga menemukan indikasi adanya metabolit sekunder baru dari kelompok terpen yang berpotensi dikembangkan menjadi senyawa antibakteri, antijamur, antiinflamasi, hingga senyawa bioaktif lainnya.
“Temuan ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut di bidang bioteknologi, khususnya mikroorganisme termofilik yang berpotensi menghasilkan aplikasi industri bernilai tinggi,” kata Prof. Wellyzar.
Indonesia masih menyimpan banyak mikroba yang belum dikenal
Tim FMIPA UI menilai kawasan geotermal Indonesia merupakan “tambang” keanekaragaman mikroorganisme yang belum banyak dieksplorasi. Saat ini, peneliti bahkan telah mengonfirmasi dua kandidat spesies bakteri baru lainnya dari kawasan geiser Cisolok yang sedang dipersiapkan untuk publikasi ilmiah.
Penelitian lanjutan akan difokuskan pada eksplorasi enzim tahan panas, pigmen pelindung sel, dan senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, industri, dan bioteknologi berkelanjutan.
Share this:
Other News



