|
Peneliti FMIPA UI Kembangkan Nanopartikel Berbasis Bangle untuk Kandidat Terapi Kanker
Depok, 10 Agustus 2026 — Peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) mengembangkan nanosistem yang berpotensi digunakan sebagai kandidat terapi kanker dengan menggabungkan terapi radiasi dan fototermal dalam satu platform.
Penelitian tersebut dikembangkan Amal Rezka Putra dalam disertasinya berjudul “GREEN SYNTHESIS NANOPARTIKEL CORE-SHELL Fe3O4@[198Au]Au MENGGUNAKAN EKSTRAK RIMPANG BANGLE (Zingiber purpureum Roscoe) DAN EVALUASI RADIO-FOTOTERMAL”. Amal mempertahankan disertasinya dalam Promosi Doktor Program Studi Ilmu Kimia FMIPA UI yang berlangsung di Aula Prof. G.A. Siwabessy FMIPA UI, Depok, Senin (3/8/2026).
Dalam penelitian ini, Amal memanfaatkan ekstrak rimpang bangle (Zingiber purpureum Roscoe) sebagai bahan alami untuk membantu membentuk dan menstabilkan nanopartikel. Pendekatan tersebut dikenal sebagai green synthesis atau sintesis ramah lingkungan karena mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis yang berpotensi menimbulkan dampak toksik.

Nanopartikel yang dikembangkan memiliki struktur berlapis dengan inti magnetik besi oksida (Fe₃O₄) dan lapisan emas (Au). Struktur tersebut kemudian dipadukan dengan emas radioaktif-198 (¹⁹⁸Au) dan antibodi rituximab (RTX) untuk membentuk nanosistem yang dirancang memiliki fungsi terapi dan pemantauan secara bersamaan.
Konsep tersebut dikenal sebagai teranostik, yakni pendekatan yang menggabungkan fungsi terapi dan diagnostik dalam satu sistem. Dengan pendekatan ini, bahan yang digunakan untuk terapi diharapkan dapat sekaligus dipantau keberadaan dan penyebarannya di dalam tubuh.
Salah satu keunggulan nanosistem yang dikembangkan adalah kemampuannya menghasilkan panas ketika disinari laser. Panas tersebut dapat dimanfaatkan untuk merusak sel kanker secara lebih terarah melalui terapi fototermal.
Hasil penelitian menunjukkan nanopartikel dengan struktur core-shell Fe₃O₄@Au memiliki kemampuan menghasilkan panas lebih baik dibandingkan nanopartikel Fe₃O₄ atau emas yang digunakan secara terpisah. Dengan penyinaran laser pada panjang gelombang 532 dan 980 nanometer, nanosistem tersebut mampu mengalami peningkatan suhu dengan efisiensi konversi fototermal sebesar 3,2–15,5 persen.
“Temuan ini menunjukkan bahwa sistem core-shell Fe₃O₄@Au memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kandidat agen fototermal,” demikian hasil penelitian Amal.

Selain memanfaatkan panas dari laser, penelitian ini juga memasukkan unsur radioaktif emas-198 (¹⁹⁸Au). Radionuklida tersebut dapat memberikan paparan radiasi pada area yang menjadi sasaran sehingga berpotensi menambah efek terapi terhadap sel kanker.
Dalam pengembangan nanosistem tersebut, Amal juga menguji penggunaan rituximab, yaitu antibodi monoklonal yang dapat dikonjugasikan pada permukaan nanopartikel emas. Dalam penelitian ini, rituximab belum diposisikan sebagai penarget spesifik yang telah terbukti untuk kanker prostat. Penggunaannya lebih ditujukan untuk mengevaluasi kemungkinan pengikatan antibodi pada permukaan nanosistem serta kestabilannya.
Penelitian dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pembuatan nanopartikel menggunakan ekstrak rimpang bangle, pengujian karakteristik fisik dan kimianya, penggabungan dengan rituximab, pengujian kemampuan menghasilkan panas, hingga pengujian awal terhadap sel dan distribusi nanosistem di dalam tubuh hewan coba.
Hasil uji awal menunjukkan bahwa nanosistem Fe₃O₄@[¹⁹⁸Au]Au-RTX relatif terkendali terhadap sel kanker prostat LNCaP maupun sel normal Vero pada konsentrasi rendah hingga menengah tanpa penyinaran laser.
Ketika diberikan penyinaran laser, viabilitas atau tingkat kelangsungan hidup sel LNCaP menurun lebih besar. Temuan tersebut menunjukkan bahwa efek panas yang dihasilkan nanosistem dapat diaktifkan dari luar menggunakan laser.

Namun, penelitian juga menemukan adanya batas keamanan yang perlu diperhatikan. Pada konsentrasi 500 mikrogram per mililiter, viabilitas sel Vero menurun secara nyata. Hal ini menunjukkan bahwa pada konsentrasi tinggi nanosistem mulai memberikan efek toksik terhadap sel normal.
Pengujian pada hewan juga memberikan informasi penting mengenai perilaku nanosistem di dalam tubuh hewan coba. Nanopartikel 198Au terutama ditemukan terakumulasi di hati. Sementara itu, pada sistem yang menggunakan penanda radioiodin, sebagian radioiodin berpindah ke kelenjar tiroid. Kondisi tersebut menunjukkan terjadinya pelepasan iodium dari komponen antibodi atau yang dikenal sebagai deiodinasi.
“Dengan demikian, nanosistem ini berpotensi sebagai kandidat agen radio-fototermal, tetapi masih memerlukan optimasi dosis, stabilitas, selektivitas terhadap sel kanker, dan keamanan biologis,” demikian kesimpulan penelitian tersebut.
Amal menempuh pendidikan doktor selama tujuh semester dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 dengan predikat Summa Cumlaude.
Promosi doktor tersebut dipimpin Ketua Sidang Prof. Dr. Ivandini Tribidasari Anggraningrum, S.Si., M.Si., yang juga merupakan Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura dan Administrasi Umum FMIPA UI. Amal dibimbing Promotor Prof. Dr. Yoki Yulizar, S.Si., M.Sc. dari Departemen Kimia FMIPA UI serta Ko-Promotor Dr. rer. nat. Rien Ritawidya, M.Farm. dari Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri, Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Hasil penelitian ini masih berada pada tahap pengembangan awal. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan dosis yang aman dan efektif, meningkatkan kestabilan nanosistem, serta memastikan kemampuan menargetkan sel kanker secara lebih selektif sebelum dikembangkan menuju pengujian pada hewan model tumor dan tahap klinis.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



