|
Depok, 11 Agustus 2026 — Sivitas Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) turut memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) “Siaga Sejak Dini” di SDN 1 Pasauran, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten.
Program yang melibatkan dosen dan mahasiswa lintas fakultas di UI bersama PT TOA Indonesia ini mengintegrasikan tiga pendekatan, yakni penyusunan jalur evakuasi, produksi video safety induction, dan edukasi mitigasi bencana melalui kurikulum CREDO (Creative Hazard Education). Pendekatan tersebut dirancang untuk membekali warga sekolah dengan pengetahuan sekaligus keterampilan menghadapi kondisi darurat.
SDN 1 Pasauran dipilih karena berada di kawasan pesisir Kecamatan Cinangka yang memiliki potensi ancaman gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas tektonik di wilayah Selat Sunda. Kondisi ini menjadikan penguatan kapasitas siswa dan guru penting untuk membangun budaya sadar risiko sejak dini.

Peran FMIPA UI dalam program ini diperkuat melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam perancangan hingga pelaksanaan kegiatan. Tim Pengmas mahasiswa yang terdiri atas 10 mahasiswa dari berbagai fakultas di UI dikoordinasikan oleh Enjel Toding Rongko’, mahasiswa Program Studi Geologi FMIPA UI.
Tim mahasiswa memetakan jalur evakuasi, memasang rambu-rambu, serta memproduksi video safety induction yang memuat panduan penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi maupun ancaman tsunami. Video tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan, termasuk dalam orientasi siswa dan latihan kesiapsiagaan bencana.
“Jalur evakuasi dan safety induction menjadi bagian penting karena pengetahuan tentang bencana harus diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dilakukan warga sekolah,” kata Enjel.
Sementara itu, tim Pengmas dosen yang diprakarsai oleh Twin Hosea W. Kristyanto dan Dr. Isnaini Rahmawati dari FMIPA UI memperkuat aspek edukasi melalui kurikulum CREDO (Creative Hazard Education).

Kurikulum tersebut mengemas pembelajaran kebencanaan melalui permainan, diskusi, dan praktik sederhana yang disesuaikan dengan usia siswa. Materi mencakup pengenalan gempa bumi dan tsunami serta langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana.
Menurut Twin, kesiapsiagaan tidak cukup dibangun melalui penyediaan perangkat peringatan dini. Pengetahuan dan keterampilan warga sekolah perlu dilatih secara berkelanjutan agar dapat diterapkan ketika menghadapi situasi darurat.
“Sekolah merupakan salah satu lingkungan yang harus memiliki kesiapsiagaan tinggi terhadap bencana. Oleh karena itu, kami mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan edukasi, penyediaan infrastruktur, dan simulasi agar seluruh warga sekolah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi situasi darurat,” ujar Twin.

Rangkaian kegiatan diawali dengan survei lapangan pada 17 Juni 2026. Tim dosen, mahasiswa, dan PT TOA Indonesia memetakan kondisi sekolah untuk menentukan jalur evakuasi, titik kumpul, serta lokasi pemasangan sistem Early Warning System (EWS).
Pada 13 Juli 2026, tim memasang rambu jalur evakuasi dan menyelesaikan produksi video safety induction. Puncak kegiatan berlangsung pada 30 Juli 2026 dengan penyerahan satu paket sistem EWS dari PT TOA Indonesia kepada SDN 1 Pasauran.
Selain berfungsi sebagai sarana penyampaian peringatan dalam kondisi darurat, sistem tersebut dapat dimanfaatkan sebagai perangkat audio sekolah untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan penyampaian informasi sehari-hari.
Setelah penyerahan EWS, siswa mengikuti edukasi mitigasi gempa melalui CREDO yang dilanjutkan dengan simulasi evakuasi oleh BPBD Kabupaten Serang. Ketika sistem EWS berbunyi, siswa dan guru mempraktikkan prosedur drop, cover, and hold on, kemudian bergerak melalui jalur evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditentukan.

Simulasi tersebut sekaligus menjadi uji praktik terhadap kesiapan warga sekolah dalam menjalankan sistem peringatan dini, mengikuti jalur evakuasi, dan menerapkan pengetahuan mitigasi yang telah diberikan.
Program ini memberikan manfaat langsung kepada 40 siswa dan 22 guru SDN 1 Pasauran. Sekolah kini memiliki jalur evakuasi dan rambu yang lebih terarah, video safety induction, serta sistem EWS yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Kepala SDN 1 Pasauran Gungun Guntara, S.Pd., mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurut dia, program ini memberikan manfaat tidak hanya dalam bentuk fasilitas, tetapi juga pengetahuan yang dapat diterapkan oleh guru dan siswa.
“Bantuan ini bukan hanya berupa fasilitas, tetapi juga pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi guru dan siswa. Kami berharap budaya siaga bencana dapat terus diterapkan di sekolah sehingga seluruh warga sekolah lebih siap menghadapi situasi darurat,” ujar Gungun.

Penguatan kesiapsiagaan di sekolah menjadi relevan bagi Indonesia yang memiliki risiko bencana geologi tinggi. Bagi sekolah di wilayah pesisir yang berhadapan dengan zona tektonik aktif, kesiapan menghadapi bencana perlu dibangun sebelum keadaan darurat terjadi, mulai dari kemampuan mengenali risiko hingga melakukan evakuasi secara tepat dan cepat.
Keterlibatan FMIPA UI dalam program ini menunjukkan bagaimana keilmuan sains dapat diterjemahkan menjadi solusi yang aplikatif bagi masyarakat. Pengetahuan di bidang geologi dan kebencanaan diwujudkan dalam pemetaan jalur evakuasi, pengembangan media edukasi, serta penguatan kapasitas warga sekolah.
Program ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan bencana. Kegiatan didukung melalui kolaborasi Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPMIS) UI dan PT TOA Indonesia, dengan melibatkan BPBD Kabupaten Serang, Pemerintah Kecamatan Cinangka, serta SDN 1 Pasauran.
Melalui “Siaga Sejak Dini”, sivitas FMIPA UI menghadirkan pendekatan berbasis sains yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diterjemahkan menjadi jalur evakuasi yang dapat digunakan, safety induction yang dapat dipelajari berulang, serta CREDO yang membangun keterampilan kesiapsiagaan sejak usia sekolah.

Bagikan ini:
Berita Lainnya



