|
Depok, 14 September 2026 — Indonesia adalah salah satu laboratorium alam terbesar di dunia. Lebih dari 17 persen jenis burung dunia hidup di Indonesia, bersama lebih dari 770 jenis mamalia, 16 persen spesies reptil dan amfibi, serta lebih dari 31.000 jenis tumbuhan berpembuluh. Kekayaan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati paling penting di dunia.
Namun, kekayaan alam itu juga menghadirkan persoalan besar: bagaimana memahami, menjaga, dan memanfaatkan biodiversitas secara berkelanjutan. Deforestasi, fragmentasi habitat, perburuan ilegal, hingga perubahan iklim terus mengancam keberlangsungan berbagai spesies. Dalam kondisi tersebut, konservasi membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian. Data dan pengetahuan ilmiah menjadi dasar penting untuk menentukan cara alam dilindungi dan dimanfaatkan.
Persoalan inilah yang selama lebih dari empat dekade menjadi bagian dari perjalanan akademik dan pengabdian Prof. Drs. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D., Guru Besar Biologi Konservasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI).
Pada 24 Agustus 2026, dedikasi tersebut memperoleh pengakuan melalui Sarwono Award 2026, penghargaan lifetime achievement yang diberikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Penghargaan itu diberikan atas rekam jejak nya dalam penelitian, pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
Bagi Prof. Jatna, penghargaan tersebut bukan penanda berakhirnya perjalanan. Ia justru melihatnya sebagai pengingat bahwa tanggung jawab terhadap ilmu pengetahuan dan alam Indonesia masih panjang.
“Penghargaan ini saya terima bukan sebagai tanda bahwa perjalanan telah selesai, melainkan sebagai pengingat bahwa tanggung jawab kita terhadap ilmu pengetahuan dan alam Indonesia masih sangat panjang.” kata Prof. Jatna.
Perjalanan itu bermula dari riset lapangan. Prof. Jatna mengawali kecintaannya terhadap penelitian melalui kajian orangutan dan lutung merah di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Dari hutan, kiprahnya kemudian berkembang ke berbagai ruang yang mempertemukan penelitian, pendidikan, konservasi, dan kebijakan lingkungan.
Ia pernah memimpin Conservation International di Indonesia pada 1995–2010 dan mendirikan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI) pada 2010 sebagai respons terhadap persoalan perubahan iklim. Di FMIPA UI, ia turut menginisiasi SDG Hub pada 2020.
Kiprah tersebut berjalan beriringan dengan kontribusinya di tingkat internasional. Prof. Jatna dipercaya sebagai Co-chair Southeast Asia Primate Specialist Group IUCN dan menjadi bagian dari dewan pengarah Center for Nature-Based Climate Solutions di National University of Singapore. Rekam jejak akademiknya juga tercermin dalam lebih dari 240 publikasi ilmiah di jurnal internasional serta 30 judul buku bertema lingkungan.

Dari Hutan ke Kebijakan
Bagi Prof. Jatna, penelitian tentang biodiversitas tidak berhenti pada pengumpulan data atau publikasi ilmiah. Pengetahuan yang dihasilkan dari lapangan perlu diterjemahkan menjadi dasar bagi pengambilan keputusan.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam orasi ilmiah Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026 yang disampaikan Prof. Dr. Gono Semiadi, Profesor Riset pada Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN. Dalam orasinya, Gono menekankan pentingnya science-policy interface, yakni hubungan antara bukti ilmiah dan kebijakan perlindungan alam.
Perspektif itu relevan dengan perjalanan Prof. Jatna yang selama puluhan tahun menghubungkan riset konservasi dengan persoalan nyata di lapangan. Sains menurutnya harus memiliki dampak terhadap kehidupan.
“Sains tidak boleh berhenti di jurnal, ruang seminar, atau rak perpustakaan. Sains harus berpihak pada kehidupan.” ujarnya.
Gagasan tersebut juga berangkat dari cara Prof. Jatna memandang hutan. Hutan bukan hanya kumpulan pepohonan, tetapi ruang hidup sekaligus sumber pengetahuan tentang evolusi, adaptasi terhadap iklim, pangan, obat-obatan, air, dan budaya.
Karena itu, konservasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hutan dan bentang alam yang terjaga berkaitan dengan tata air, penyimpanan karbon, keanekaragaman hayati, pangan, sumber penghidupan, hingga pengembangan pariwisata berbasis alam.
Konservasi sebagai Investasi Masa Depan
Pemikiran tersebut kemudian berkembang dalam sejumlah karya Prof. Jatna mengenai hubungan antara masyarakat dan kelestarian alam. Dalam forum peluncuran dan bedah tiga bukunya, ia menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam upaya konservasi.
Tiga buku tersebut, yakni Etnobiologi dan Konservasi Sumber Daya Hayati Berbasis Masyarakat Adat di Indonesia, Pariwisata dan Perubahan Iklim, serta Biologi Konservasi Indonesia, membawa satu gagasan yang sama: perlindungan kawasan dan satwa perlu berjalan bersama ilmu pengetahuan, kebijakan, aktivitas ekonomi, dan peran masyarakat.
“Upaya menjaga alam membutuhkan pertemuan antara ilmu pengetahuan, kebijakan, aktivitas ekonomi, dan peran aktif masyarakat.” imbuhnya.
Dalam kerangka tersebut, restorasi ekosistem juga tidak berhenti pada kegiatan menanam pohon. Pemulihan harus mencakup fungsi ekologis, keanekaragaman hayati, riset dan pemantauan, pemilihan jenis tanaman yang adaptif, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Empat dekade perjalanan Prof. Jatna memperlihatkan bagaimana ilmu biologi konservasi dapat bergerak dari penelitian lapangan menuju ruang pendidikan, kebijakan, hingga kerja sama internasional. Pengakuan melalui Sarwono Award 2026 sekaligus menempatkan perjalanan tersebut dalam konteks yang lebih luas: menjaga biodiversitas Indonesia bukan hanya tentang menyelamatkan spesies, tetapi juga mempertahankan fondasi ekologis yang menopang kehidupan manusia.
Dari hutan yang menjadi ruang penelitian hingga ruang kebijakan yang menentukan masa depan lingkungan, kerja konservasi pada akhirnya bertumpu pada satu hal: menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar untuk memahami alam sekaligus menjaga keberlangsungannya.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



