|
Depok, 26 Agustus 2026 — Membuka semester baru Tahun Akademik 2026/2027, Program Studi Geologi dan Program Studi Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) kembali menggelar UI Geoscience Seminar x STARBORN Mengajar 2026 di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, Depok, Senin (24/8). Mengangkat tema “Mines Do Not Stop When the Ore Runs Out”, seminar ini membahas pentingnya penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam mewujudkan pertambangan yang berkelanjutan.
Seminar menghadirkan Dr. Dicky Nugroho, S.Si., M.B.A., M.S., Head of Sustainability & Corporate Communication Group (Asia Pacific Region), Dynapack Asia, Pte. Ltd., sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, ia mengajak mahasiswa memahami bahwa keberhasilan kegiatan pertambangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam menemukan dan mengolah sumber daya mineral, tetapi juga oleh komitmen untuk memperhatikan aspek lingkungan, keselamatan, masyarakat, dan tata kelola secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan hingga penutupan tambang.
“Pertambangan akan tetap dibutuhkan oleh generasi berikutnya. Yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah kita membutuhkan pertambangan atau tidak, tetapi bagaimana kita menjalankan pertambangan dengan cara yang lebih berkelanjutan,” ujar Dr. Dicky.
Menurutnya, banyak proyek pertambangan dapat berhenti di tengah jalan meskipun telah menghabiskan waktu dan biaya yang besar. Kesenjangan antara ekspektasi dan kondisi di lapangan, beban finansial, persoalan perizinan, serta penerimaan sosial masyarakat sekitar menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi keberlangsungan proyek.
Dr. Dicky juga menyoroti tantangan pertambangan di Indonesia, khususnya terkait keselamatan dan lingkungan. Dalam pemaparan disebutkan adanya korban jiwa di industri pengolahan nikel serta persoalan deforestasi di wilayah pertambangan Halmahera. Keberadaan lubang tambang batu bara yang belum direklamasi juga menjadi persoalan karena berpotensi membahayakan masyarakat, termasuk anak-anak.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kegiatan pertambangan dapat berlangsung jauh setelah aktivitas produksi berakhir. Karena itu, penerapan prinsip ESG perlu ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan siklus pertambangan, bukan sekadar pelengkap setelah kegiatan produksi berjalan.

Penerapan pertambangan berkelanjutan, lanjut Dr. Dicky, antara lain dapat dilakukan melalui pemulihan kualitas air agar mendekati kondisi sebelum penambangan, pengelolaan limbah untuk mencegah terbentuknya air asam tambang, perbaikan lingkungan sekitar wilayah pertambangan, penguatan keselamatan untuk meminimalkan korban jiwa, serta penyediaan dana untuk kegiatan restorasi dan mine closure.
“Ketika ore sudah habis, tanggung jawab kita belum selesai. Kita tetap harus memastikan airnya, lingkungannya, masyarakatnya, dan seluruh area tambang dapat ditinggalkan dalam kondisi yang bertanggung jawab,” katanya.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa Geologi dan Geofisika yang kelak akan memasuki dunia industri. Selain menguasai kompetensi teknis, mahasiswa perlu membangun perspektif yang lebih luas mengenai konsekuensi sosial dan lingkungan dari setiap keputusan yang diambil dalam pengelolaan sumber daya alam.
Pemahaman ESG juga menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berkontribusi di berbagai bidang, mulai dari eksplorasi, perencanaan dan operasi tambang, pengelolaan lingkungan, reklamasi, hingga mine closure. Dengan kompetensi tersebut, lulusan geosains diharapkan tidak hanya mampu menjawab kebutuhan industri, tetapi juga turut mendorong praktik pertambangan yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Setelah pemaparan materi, moderator Twin Hosea W. K., S.T., M.T. menyampaikan kesimpulan dan membuka sesi tanya jawab. Diskusi membahas sejumlah persoalan terkait keberlanjutan pertambangan, termasuk bagaimana seseorang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan tetap dapat berkarier di industri pertambangan.
Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan keberlanjutan tidak selalu harus dijawab dengan menjauhi industri, tetapi juga dapat dilakukan dengan menghadirkan sumber daya manusia yang memiliki kesadaran lingkungan dan kemampuan teknis untuk mendorong perubahan dari dalam.
Melalui UI Geoscience Seminar x STARBORN Mengajar 2026, mahasiswa FMIPA UI didorong untuk melihat pertambangan secara lebih utuh—bukan hanya dari sisi pemanfaatan sumber daya, tetapi juga dari tanggung jawab yang menyertainya. Hal ini menjadi semakin penting di tengah perkembangan industri mineral dan agenda hilirisasi Indonesia yang menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, kepentingan masyarakat, dan keberlanjutan jangka panjang.
Share this:
Other News



