|
“From Ideas to Execution”, FMIPA UI bersama Starborn Ajak Mahasiswa Berani Menciptakan Dampak
Depok, 22 September 2026 — Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) diajak untuk tidak berhenti pada tahap menghasilkan gagasan, tetapi berani mengubah ide menjadi aksi yang memberikan dampak nyata. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam UI Geoscience Seminar x Starborn Mengajar yang bertajuk From Ideas to Execution: Making the World Impact yang digelar Program Studi Geologi dan Program Studi Geofisika FMIPA UI, Senin (21/9/2026), di Aula Prof. Soemantri Brodjonegoro, FMIPA UI.
Seminar menghadirkan Dr. Ir. Kudus Kurniawan, S.Si., M.A., Chief Financial Officer Starborn Chemical, sebagai pembicara. Melalui program UIGS x Starborn Mengajar 2026, mahasiswa mendapatkan perspektif mengenai kondisi dunia kerja dari para praktisi di bidangnya.
Kudus mengatakan, kolaborasi Starborn Chemical dengan UI dalam program tersebut dirancang sebagai bentuk berbagi pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran mengenai situasi yang akan mereka hadapi ketika memasuki dunia kerja.
Menurut dia, pembelajaran dari praktisi penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui bagaimana suatu gagasan diterapkan dalam situasi nyata.
Dalam pemaparannya, Kudus mengajak mahasiswa terlebih dahulu merefleksikan tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan. Tujuan tersebut dapat berupa kesuksesan, pencapaian finansial, menyelesaikan pendidikan, maupun keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Ia juga membagikan pengalaman pribadinya ketika pernah memiliki target untuk membangun pabrik setelah menyelesaikan pendidikan. Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa tujuan yang besar dapat menjadi titik awal untuk menentukan langkah dan tindakan yang perlu dilakukan.
Kudus kemudian menjelaskan empat tahapan utama dalam mengeksekusi sebuah ide, yakni identify the problem, define the values, experiment, dan align.
Tahap pertama adalah mengidentifikasi persoalan yang hendak diselesaikan. Setelah itu, nilai yang ingin dihasilkan perlu ditentukan dengan jelas. Gagasan kemudian diuji melalui eksperimen dengan prinsip we should try everything, sebelum seluruh elemen yang terlibat diselaraskan agar dapat berjalan menuju tujuan yang sama.
“Dunia ini tidak pernah kekurangan ide. Kegagalan juga merupakan salah satu cara agar kita bisa memberikan dampak bagi dunia,” ujar Kudus dalam pemaparannya.
Ia mengingatkan mahasiswa bahwa tidak semua hal yang dikerjakan akan langsung berhasil. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki cara pandang yang terbuka dan tidak terjebak pada keterbatasan ketika menghadapi kegagalan.
Fokus utamanya, kata dia, bukan semata-mata apakah sebuah gagasan berhasil dalam percobaan pertama, melainkan bagaimana gagasan tersebut dapat menghasilkan impact. Untuk mencapainya, diperlukan berbagai modal, antara lain brain untuk berpikir secara cerdas dan social untuk membangun jejaring.
Kudus juga menekankan bahwa dampak tidak selalu lahir dari pekerjaan berskala besar. Pekerjaan yang sederhana dan dilakukan secara konsisten dapat membuka pemahaman terhadap persoalan yang lebih besar.

Lima Elemen Eksekusi
Dalam seminar tersebut, Kudus merinci lima elemen yang diperlukan untuk mengubah ide menjadi eksekusi dan menciptakan impact for better world. Kelima elemen itu adalah clarity, priority, speed, adaptation, dan measurements.
Clarity diperlukan untuk memastikan tujuan yang hendak dicapai. Setelah tujuan jelas, seseorang perlu menentukan priority agar sumber daya yang dimiliki digunakan pada hal yang paling penting. Selanjutnya, speed diperlukan agar gagasan tidak berhenti sebagai rencana.
Di sisi lain, proses eksekusi juga membutuhkan kemampuan adaptation karena kondisi di lapangan dapat berubah. Setiap langkah kemudian perlu disertai measurements untuk mengetahui sejauh mana proses yang dilakukan menghasilkan perkembangan atau dampak.
Menurut Kudus, proses eksekusi kerap terhambat oleh rasa takut, kecenderungan terlalu perfeksionis, serta kurangnya dukungan dari tim. Hambatan tersebut membuat seseorang terlalu lama berada pada tahap merancang gagasan tanpa segera mencoba menerapkannya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk tidak membuat gagasan yang terlalu rumit pada tahap awal. Ide dapat dimulai dari skala kecil dan sederhana atau small and simple sehingga lebih mudah diuji dan dikembangkan.
Dimulai dari Sekarang
Pesan tersebut kembali disampaikan Kudus ketika menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai cara mematangkan ide. Menurut dia, setiap pekerjaan perlu dilakukan dengan hati dan mempertimbangkan manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Pada sesi tanya jawab, mahasiswa Geologi angkatan 2024, Oliv, juga menanyakan cara membangun impact dan koneksi di tengah keterbatasan sebagai mahasiswa.
Kudus menjelaskan bahwa membangun dampak dan jejaring tidak dapat dilakukan secara instan. Karena itu, mahasiswa perlu mulai membangun networking sejak dini dan memperluas pergaulan.
Ia mencontohkan pengalamannya ketika membuat program edukasi di Dumai pada 1994. Sekitar sepuluh tahun setelah program tersebut, pihak yang terlibat dalam kegiatan itu kembali terhubung dengannya dan kemudian memberikan peluang bisnis.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa hubungan yang dibangun sejak awal dapat memberikan manfaat yang tidak selalu dapat diprediksi pada saat itu.
Pertanyaan lain dari mahasiswa berkaitan dengan tantangan terbesar dalam mengeksekusi gagasan. Kudus kembali menekankan pentingnya memulai dari sesuatu yang kecil dan sederhana.
“Jangan membuat ide yang terlalu sulit. Harus small and simple. Kalau sejak awal dibuat rumit, kita akan merasa malas untuk mengeksekusinya. Jadi, mulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu,” katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk luwes dalam membangun relasi dengan berbagai kalangan. Menurut dia, kontribusi dapat dilakukan melalui berbagai bentuk sederhana, termasuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau orang yang kehilangan pekerjaan agar dapat kembali memiliki kesempatan untuk bekerja secara mandiri.
Pada akhir pemaparan, Kudus menyampaikan bahwa generasi yang hebat bukan hanya generasi yang mampu membayangkan masa depan, tetapi juga yang berani membangunnya.
Ia berharap mahasiswa yang mengikuti seminar tersebut kelak dapat menghasilkan berbagai bentuk kontribusi, mulai dari membangun perusahaan, menemukan teknologi baru, menyelesaikan persoalan sosial, membangun institusi, hingga menghasilkan penelitian yang memberikan manfaat luas.
Pesan tersebut dirangkum dalam prinsip yang menjadi penutup seminar, “From Ideas to Execution, From Execution to Impact, From Impact to a Better World.”
Melalui UI Geoscience Seminar x Starborn Mengajar, mahasiswa Geologi dan Geofisika FMIPA UI tidak hanya memperoleh perspektif mengenai dunia kerja, tetapi juga diajak melihat proses eksekusi sebagai bagian penting dalam mengubah pengetahuan dan gagasan menjadi solusi yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



