Mahasiswa FMIPA UI Kembangkan AI untuk Deteksi dan Simulasi Pengobatan Kanker Paru

Depok, 25 September 2026 — Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) mengembangkan Deep-BioOrtho, prototipe perangkat lunak yang memadukan kecerdasan buatan dan kimia bioorthogonal untuk membantu mendeteksi potensi kanker paru sekaligus menyimulasikan kandidat pengobatan secara lebih terarah.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh lima mahasiswa Program Studi Kimia FMIPA UI melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC). Pengembangan Deep-BioOrtho melibatkan keilmuan FMIPA UI dan Fakultas Kedokteran (FK) UI untuk mengintegrasikan analisis citra medis dengan pendekatan kimia dalam simulasi pengobatan kanker paru.

Tim yang terdiri atas Reza Nur Ikhsan, Hafiz Rizky Ramadhani, Shofiy Falihah Utami, Sulthan Raju Salim, dan Adisah Fayza Arundati itu mengembangkan Deep-BioOrtho melalui riset berjudul “Deep-BioOrtho: Integrasi Deep Learning CNNs dalam Perancangan Reaksi Bioorthogonal untuk Aktivasi Obat Kanker Paru Intraseluler Presisi dan Minim Efek Samping”.

Dalam sistem tersebut, deep learning digunakan untuk membantu menganalisis citra rontgen (X-Ray) paru-paru. Teknologi Convolutional Neural Networks (CNN) digunakan untuk mengenali pola pada citra dan mengidentifikasi indikasi yang berpotensi berkaitan dengan kanker paru.

Hasil analisis tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun simulasi kandidat pengobatan dengan pendekatan kimia bioorthogonal.

“Kami menggabungkan deep learning CNNs dan kimia bioorthogonal untuk membangun framework software yang kami beri nama Deep-BioOrtho. CNNs digunakan untuk mendeteksi adanya potensi kanker pada citra X-Ray, sedangkan prinsip kimia bioorthogonal digunakan sebagai kerangka simulasi kandidat obat kanker paru yang minim efek samping sesuai tingkat keparahan yang telah dianalisis oleh algoritma CNNs pada software kami,” kata Reza di Kampus UI, Depok.

Pengembangan prototipe tersebut didampingi Dr. (Eng) Pugoh Santoso, S.Si., M.Si., dari FMIPA UI sebagai pembimbing utama. Sementara aspek medis dalam pengembangan penelitian dibimbing dr. Gatut Priyonugroho, Sp.P(K)-Onk., FISR dari FK UI sebagai pembimbing lapangan.

Dr. Pugoh mengatakan, pengembangan Deep-BioOrtho menjadi tantangan bagi mahasiswa karena menggabungkan sejumlah bidang keilmuan sekaligus. Menurut dia, proses tersebut mendorong mahasiswa tidak hanya memahami konsep kimia dan komputasi, tetapi juga mengaitkannya dengan kebutuhan di bidang kesehatan.

“Semula ide ini diragukan oleh beberapa orang karena terlalu kompleks, tetapi saya percaya dedikasi Reza dan tim untuk membangun penelitian inovatif berupa prototipe software Deep-BioOrtho hingga tahap ini merupakan pembuka jalan bagi pengobatan kanker paru masa depan yang lebih baik di Indonesia,” ujar Dr. Pugoh.

Hafiz, yang berperan dalam perancangan algoritma deep learning, mengatakan kecerdasan buatan dapat membantu mengolah informasi dari citra medis secara lebih efisien. Dalam Deep-BioOrtho, analisis citra tersebut dipadukan dengan pendekatan kimia bioorthogonal dalam satu kerangka perangkat lunak.

Kimia bioorthogonal merupakan pendekatan yang memungkinkan reaksi kimia tertentu berlangsung secara spesifik di dalam sel hidup tanpa mengganggu proses biokimia normal. Dalam Deep-BioOrtho, prinsip tersebut digunakan untuk menyimulasikan kemungkinan aktivasi obat secara lebih terarah berdasarkan hasil analisis citra paru-paru.

Meski demikian, Deep-BioOrtho masih berada pada tahap prototipe dan belum dapat digunakan sebagai perangkat diagnosis ataupun pengobatan kanker paru dalam praktik klinis. Akurasi sistem dan keamanan penerapannya masih memerlukan penelitian, pengujian, serta validasi lebih lanjut.

Gatut mengatakan, prototipe tersebut masih memiliki ruang untuk dikembangkan melalui penelitian lanjutan.

“Prototipe software yang dibangun Reza dan tim merupakan preliminary kanker paru yang sangat potensial dan dapat dikembangkan lebih lanjut di Indonesia hingga mencapai golden standard penanganan kanker paru untuk membantu dunia medis,” katanya.

Pengembangan Deep-BioOrtho memperlihatkan bagaimana mahasiswa FMIPA UI memanfaatkan ilmu dasar, khususnya kimia dan komputasi, untuk mengembangkan teknologi yang dapat diterapkan pada persoalan kesehatan. Kolaborasi dengan FK UI juga membuka ruang bagi pengembangan inovasi berbasis sains yang mempertemukan pendekatan laboratorium, komputasi, dan kebutuhan medis.

Inovasi tersebut selanjutnya mengantarkan tim Deep-BioOrtho berkompetisi dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2026. Tim berharap pengembangan berikutnya dapat menghasilkan prototipe yang semakin teruji untuk mendukung deteksi kanker paru dan eksplorasi pengobatan yang lebih presisi.

Bagikan ini:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Email
Tumblr
Telegram
Print

Berita Lainnya