|
Riset Doktor FMIPA UI Petakan Prioritas Perlindungan Harimau dan Orangutan Sumatera di TNGL
Depok, 23 September 2026 — Adhi Nurul Hadi, promovendus Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), mengembangkan model berbasis data untuk membantu menentukan wilayah yang perlu diprioritaskan dalam perlindungan Harimau Sumatera dan Orangutan Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Aceh dan Sumatera Utara.
Model tersebut menggabungkan data tentang tingkat ancaman terhadap satwa dengan kondisi habitatnya. Hasil pemetaan dapat digunakan untuk menentukan lokasi yang membutuhkan patroli lebih intensif, pemulihan habitat, perlindungan jalur pergerakan satwa, hingga pencegahan konflik manusia dan satwa liar.
Penelitian itu merupakan bagian dari disertasi Adhi berjudul Developing Landscape Management Models for Sumatran Tiger and Sumatran Orangutan in Gunung Leuser National Park, yang dipertahankan dalam sidang promosi doktor di Aula Prof. G.A. Siwabessy FMIPA UI, Depok, Rabu (23/9/2026).
Adhi mengolah data pemantauan TNGL pada 29.192 titik wilayah berukuran 1 x 1 kilometer selama 2013–2020. Data tersebut digunakan untuk melihat dua hal, yakni seberapa besar tekanan yang dihadapi satwa dan seberapa baik suatu wilayah masih mampu mendukung kehidupan mereka.
Tekanan yang dihitung antara lain kehilangan hutan, kedekatan dengan jalan, perburuan, konflik manusia–satwa liar, dan aktivitas manusia lainnya. Sementara kondisi habitat dilihat dari kualitas habitat, ketersediaan makanan, jumlah satwa, serta kegiatan patroli.
Dari pemetaan tersebut, wilayah TNGL dapat dibedakan berdasarkan tingkat ancaman dan kondisi habitatnya. Dengan cara ini, pengelolaan konservasi tidak harus dilakukan dengan pendekatan yang sama di seluruh kawasan, tetapi dapat disesuaikan dengan persoalan masing-masing wilayah.

Ancaman berkurang, habitat belum tentu pulih
Salah satu temuan penting penelitian Adhi adalah berkurangnya ancaman terhadap satwa belum tentu berarti habitatnya sudah pulih.
Selama 2013–2020, kondisi konservasi di TNGL mengalami tiga fase. Kondisi relatif stabil pada 2013–2015, memburuk pada 2016–2017, kemudian mulai membaik pada 2018–2020.
Pada periode terburuk, 2016–2017, sekitar 40,6 persen wilayah yang menjadi habitat Harimau Sumatera dan 46,1 persen habitat Orangutan Sumatera masuk kategori yang membutuhkan intervensi kritis.
Kondisi tersebut terjadi setelah El Niño 2015–2016 yang berdampak pada kebakaran, kehilangan hutan, dan perubahan ketersediaan satwa mangsa.
Setelah itu, tingkat ancaman terhadap harimau menurun. Rata-rata indeks ancaman terhadap Harimau Sumatera turun 17,2 persen selama periode penelitian, antara lain sejalan dengan peningkatan patroli.
Namun, kondisi habitat tidak langsung membaik. Kemampuan wilayah untuk mendukung kehidupan Harimau Sumatera justru mencapai titik terendah pada 2019.
“Konservasi tidak cukup hanya melihat apakah ancaman terhadap satwa menurun. Kita juga perlu melihat apakah habitatnya masih mampu mendukung kehidupan satwa dalam jangka panjang,” kata Adhi.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari berkurangnya perburuan atau ancaman lainnya. Kondisi habitat dan kemampuan ekosistem dalam mendukung populasi satwa juga perlu diperhatikan.
2.204 orangutan diperkirakan berada di luar kawasan konservasi
Penelitian Adhi juga menemukan tantangan lain dalam perlindungan Orangutan Sumatera.
Berdasarkan survei pada 208 jalur pengamatan sarang orangutan pada 2021–2023, populasi Orangutan Sumatera diperkirakan mencapai 11.694 individu. Jumlah itu turun sekitar 19,5 persen dibandingkan perkiraan pada 2016 atau rata-rata sekitar 1,8 persen per tahun.
Penelitian menunjukkan bahwa kehilangan tutupan hutan menjadi salah satu faktor utama yang berkaitan dengan perubahan kondisi populasi orangutan.
Yang menjadi perhatian, sekitar 2.204 individu atau 18 persen dari populasi Orangutan Sumatera diperkirakan berada di bentang alam nonhutan tanpa status perlindungan formal.
Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan orangutan tidak cukup hanya mengandalkan taman nasional. Habitat di luar kawasan konservasi juga perlu diperhitungkan dalam perencanaan tata ruang dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Adhi merekomendasikan sejumlah pilihan, antara lain perlindungan kawasan ekosistem esensial, memasukkan habitat orangutan dalam pengelolaan perhutanan sosial dan kawasan pelestarian, serta memperluas kerja sama konservasi dengan masyarakat.

Peta menunjukkan wilayah yang perlu didahulukan
Model yang dikembangkan Adhi juga menunjukkan wilayah yang perlu menjadi prioritas. Tekanan terhadap Harimau Sumatera dan Orangutan Sumatera paling tinggi ditemukan di kawasan peralihan antara hutan dan lahan pertanian, terutama di bagian timur dan tenggara TNGL.
Karena itu, penelitian merekomendasikan peningkatan patroli di wilayah yang terus-menerus menghadapi ancaman tinggi. Habitat yang rusak, terutama di wilayah dataran rendah yang menjadi jalur pergerakan satwa, juga perlu dipulihkan.
Untuk mengurangi konflik manusia dan satwa liar, Adhi merekomendasikan sistem peringatan dini dan respons cepat di wilayah tepi hutan. Dengan mengetahui lokasi yang berisiko, pencegahan dapat dilakukan sebelum konflik terjadi.
“Dengan mengetahui wilayah yang paling terancam dan kondisi habitatnya, upaya konservasi dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan intervensi,” ujar Adhi.
Model tersebut dapat membantu pengelola kawasan dan pemerintah menentukan lokasi yang perlu didahulukan untuk patroli, pemulihan habitat, perlindungan jalur pergerakan satwa, dan pencegahan konflik.
Konservasi tidak berhenti di batas taman nasional
Penelitian Adhi menunjukkan kondisi Harimau Sumatera dan Orangutan Sumatera mengalami pola perubahan yang relatif serupa. Keduanya mengalami kondisi terburuk pada periode yang sama dan mulai menunjukkan pemulihan setelahnya.
Temuan tersebut menjadi dasar pentingnya pengelolaan konservasi dalam skala bentang alam. Sebab, satwa tidak mengenal batas administratif taman nasional. Mereka membutuhkan habitat yang saling terhubung, termasuk kawasan di luar taman nasional.
Karena itu, perlindungan satwa membutuhkan kerja sama antara pengelola kawasan, pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak lain yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan.
Model yang dikembangkan Adhi juga dapat menjadi salah satu alat untuk membantu mengevaluasi keberhasilan konservasi. Evaluasi tidak hanya melihat apakah ancaman terhadap satwa menurun, tetapi juga apakah habitat benar-benar membaik dan mampu mendukung kehidupan satwa dalam jangka panjang.
Pendekatan tersebut dapat dikembangkan untuk kawasan konservasi lain dengan menyesuaikan data yang tersedia di masing-masing wilayah.
Disertasi Adhi dipromosikan di bawah bimbingan Promotor Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D. dari Departemen Biologi FMIPA UI, serta Ko-Promotor Prof. Chris R. Margules, Ph.D. dari James Cook University, Australia, dan Dr. Noviar Andayani, M.Sc. dari Departemen Biologi FMIPA UI.
Sidang promosi doktor dipimpin oleh Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra, M.Si. Penelitian ini menunjukkan bahwa data pemantauan satwa dan habitat dapat diolah menjadi peta prioritas untuk membantu menentukan langkah konservasi secara lebih tepat sasaran.
Bagikan ini:
Berita Lainnya



