|
FMIPA UI Bahas Integrasi Matematika dan Sains untuk Jembatani Riset dengan Kebutuhan Nyata
Depok, 4 September 2026 — Integrasi matematika dan sains diperlukan untuk menerjemahkan hasil penelitian menjadi solusi yang dapat diterapkan dalam kesehatan, industri, dan kebijakan publik. Hal tersebut dibahas dalam Kuliah Umum “Integrasi Sains dan Matematika” yang digelar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Rabu (2/9/2026).
Kuliah umum yang berlangsung di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, menghadirkan Guru Besar Departemen Matematika FMIPA UI Prof. Dr. Dipo Aldila dan Guru Besar Departemen Kimia FMIPA UI Prof. Dr. rer. nat. Budiawan. Kegiatan dimoderatori dosen Program Studi Geologi FMIPA UI Asri Oktavioni Indraswari, S.T., M.Sc., D.Phil.
Prof. Dipo membahas epidemiologi matematis sebagai pendekatan untuk memahami dan memprediksi dinamika penyebaran penyakit. Melalui pemodelan matematika, berbagai skenario intervensi dapat dianalisis, antara lain pada kasus COVID-19, demam berdarah dengue (DBD), serta koinfeksi HIV dan Mpox.

“Matematika memberikan kerangka untuk memahami bagaimana suatu penyakit menyebar dan bagaimana intervensi yang berbeda dapat memengaruhi dinamika tersebut. Dengan pendekatan ini, hasil analisis dapat menjadi salah satu dasar dalam merancang kebijakan kesehatan yang lebih tepat,” ujar Prof. Dipo.
Menurut dia, pemodelan matematika dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola dan memperkirakan dampak dari berbagai pilihan intervensi. Pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana keilmuan dasar dapat digunakan untuk menjawab persoalan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, Prof. Budiawan membahas integrasi STEM berdampak tinggi sebagai upaya menjembatani kesenjangan antara hasil penelitian dan penerapan industri. Studi kasus yang digunakan adalah hilirisasi sumber daya alam sawit di Indonesia.
Ia menjelaskan, proses membawa hasil penelitian dari laboratorium ke industri menghadapi sejumlah tantangan, termasuk peningkatan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari level 1–4 menuju level 7–9. Kesenjangan dalam proses tersebut dikenal sebagai valley of death.
“Kita perlu membangun jembatan dari hasil riset di laboratorium menuju penerapan. Di sinilah integrasi STEM menjadi penting, karena prosesnya tidak berhenti pada pembuktian secara ilmiah, tetapi juga mencakup kesiapan teknologi, pengembangan skala, kebutuhan industri, hingga aspek ekonomi dan regulasi,” kata Prof. Budiawan.
Kesenjangan antara penelitian dan penerapan industri dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti kesiapan teknologi, pendanaan, pengembangan skala, regulasi, serta kesiapan industri. Karena itu, hasil penelitian membutuhkan pendekatan lintas disiplin agar dapat dikembangkan menjadi teknologi yang siap diterapkan.

Selain pemaparan materi, kuliah umum dilanjutkan dengan diskusi bersama mahasiswa pascasarjana. Sejumlah persoalan yang dibahas mencakup strategi menemukan research gap, keterbatasan dan sumber galat (error) dalam pemodelan matematika, serta tantangan menerjemahkan hasil penelitian menjadi kebijakan publik.
Diskusi juga menyoroti faktor pembiayaan dan kelembagaan yang dapat memengaruhi proses penerapan hasil penelitian. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan riset tidak hanya ditentukan oleh kebaruan temuan, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan pengguna.
Melalui kuliah umum tersebut, mahasiswa pascasarjana FMIPA UI mendapatkan perspektif mengenai penerapan pendekatan lintas disiplin dalam penelitian. Matematika dapat digunakan untuk membangun model dan analisis kuantitatif, sementara sains berperan dalam menghasilkan serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi.
Integrasi kedua bidang tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat relevansi penelitian sehingga hasilnya dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menjawab persoalan di sektor kesehatan, industri, dan kebijakan publik.

Share this:
Other News



