|
Depok, 5 Agustus 2026 — Pengembangan energi bersih menjadi salah satu tantangan penting Indonesia di tengah upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mencapai target emisi nol bersih atau net zero emission (NZE) 2060. Hidrogen menjadi salah satu sumber energi yang terus dikembangkan karena berpotensi mendukung transisi menuju sistem energi rendah emisi.
Di tengah kebutuhan tersebut, Yulian Syahputri, doktor Program Studi Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), mengembangkan material yang dapat membantu produksi gas hidrogen dengan memanfaatkan energi cahaya.
Penelitian itu dipaparkan dalam Promosi Doktor FMIPA UI di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, Depok, Rabu (15/7/2026). Dalam disertasinya, Yulian mengembangkan material berbasis samarium dan disprosium, dua unsur logam tanah jarang, yang dipadukan dengan senyawa organik perylene.

Material tersebut berfungsi sebagai fotokatalis, yakni bahan yang membantu mempercepat reaksi kimia dengan memanfaatkan energi cahaya. Dalam penelitian ini, fotokatalis digunakan untuk mendukung produksi gas hidrogen.
“Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk mengembangkan material yang dapat mendukung produksi hidrogen secara lebih efektif. Kami memanfaatkan material berbasis logam tanah jarang dan senyawa organik yang mampu menyerap cahaya untuk mendorong proses produksi hidrogen,” kata Yulian.
Pengembangan teknologi hidrogen menjadi bagian dari agenda transisi energi Indonesia. Hidrogen, khususnya hidrogen yang diproduksi menggunakan sumber energi terbarukan, dinilai berpotensi mendukung pengurangan emisi di sektor-sektor yang sulit dialihkan sepenuhnya dari penggunaan bahan bakar fosil.
Dalam penelitiannya, Yulian mensintesis dua material, yakni Sm-MOFs dan Dy-MOFs. Keduanya termasuk material berpori yang strukturnya dapat dirancang untuk memiliki karakteristik tertentu, termasuk kemampuan menyerap cahaya dan menyediakan ruang bagi berlangsungnya reaksi kimia.
Hasil penelitian menunjukkan, material berbasis samarium memiliki efisiensi pemanfaatan energi cahaya sebesar 41,4 persen, sedangkan material berbasis disprosium mencapai 26,7 persen.

Melalui pengujian dan optimasi, material berbasis samarium mampu menghasilkan gas hidrogen dengan laju 0,0084 milimol per detik. Sementara itu, material berbasis disprosium menghasilkan hidrogen dengan laju 0,0075 milimol per detik.
Untuk mendapatkan kondisi produksi yang optimal, Yulian menggunakan metode statistik yang dapat menganalisis pengaruh beberapa faktor secara bersamaan. Pendekatan ini membantu menentukan kombinasi kondisi terbaik dengan jumlah percobaan yang lebih efisien.
Pada material berbasis samarium, kondisi optimal diperoleh dengan menggunakan 10 miligram fotokatalis, 5 mililiter metanol, dan waktu reaksi 60 menit. Sementara itu, material berbasis disprosium mencapai kondisi optimal dengan 10 miligram fotokatalis, 8,9 mililiter metanol, dan waktu reaksi 60 menit.
“Keunggulan pendekatan optimasi ini adalah kita dapat melihat pengaruh beberapa faktor secara bersamaan sehingga kondisi terbaik dapat ditentukan secara lebih terarah. Hasil penelitian menunjukkan metode tersebut dapat diandalkan untuk mengoptimalkan produksi hidrogen menggunakan fotokatalis berbasis logam tanah jarang,” ujar Yulian.

Menurut Yulian, temuan tersebut masih merupakan tahap awal pengembangan material untuk produksi hidrogen. Meski demikian, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan untuk pengembangan fotokatalis baru yang lebih efisien dan penelitian lanjutan di bidang energi bersih.
“Ke depan, material yang dikembangkan masih dapat ditingkatkan, baik dari sisi efisiensi maupun penerapannya. Kami berharap penelitian ini dapat menjadi salah satu dasar bagi pengembangan teknologi produksi hidrogen yang mendukung kebutuhan energi bersih di Indonesia,” katanya.
Yulian menyelesaikan studi doktoralnya dalam 10 semester dengan IPK 4,00 dan meraih predikat sangat memuaskan. Dalam sidang promosi doktor, Prof. Dr. Ivandini Tribidasari Anggraningrum, S.Si., M.Si., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura dan Administrasi Umum FMIPA UI, bertindak sebagai ketua sidang. Adapun disertasi Yulian disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys sebagai promotor dan Prof. Dr. Jarnuzi Gunlazuardi sebagai ko-promotor, keduanya dari Departemen Kimia FMIPA UI.
Share this:
Other News



