FMIPA UI Ungkap Teknologi Baru untuk Memantau Aktivitas Gen Secara Langsung di Dalam Sel

Depok, 11 Mei 2026 — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menyoroti perkembangan teknologi baru yang memungkinkan peneliti mengamati aktivitas gen secara langsung dalam waktu nyata (real-time) di dalam sel hidup melalui kegiatan MIPA TALK bertajuk “Decoding the Transcriptional Cycle” yang diselenggarakan di Aula Prof. Dr. Ir. Soemantri Brodjonegoro, Selasa (6/5).

Inovasi ini membuka cara pandang baru dalam memahami bagaimana gen bekerja dan diatur untuk menentukan fungsi sel dalam tubuh manusia. Salah satu teknologi yang dibahas adalah pemanfaatan mintbody yang dikombinasikan dengan green fluorescent protein (GFP) untuk memvisualisasikan proses transkripsi pada organisme hidup seperti embrio zebrafish dan mencit.

Tubuh manusia tersusun dari berbagai jenis sel yang memiliki bentuk dan fungsi berbeda-beda, meskipun semuanya berasal dari instruksi genetik (DNA) yang sama. Perbedaan inilah yang membuat setiap sel dapat menjalankan peran khusus, seperti sel jantung yang berfungsi memompa darah dan sel saraf yang mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh.

Pemahaman ini penting untuk menjelaskan cara kerja tubuh di tingkat paling dasar sekaligus menjadi dasar perkembangan biologi dan kedokteran modern. Hal ini juga menunjukkan bahwa identitas sel tidak hanya ditentukan oleh DNA, tetapi juga oleh cara gen diaktifkan dan diatur.

Kegiatan kuliah pakar ini menghadirkan Prof. Hiroshi Kimura, Guru Besar di Cell Biology Center, Institute of Integrated Research, Institute of Science Tokyo, Jepang, sebagai pembicara utama yang memaparkan perkembangan terbaru dalam bidang epigenetik dan regulasi transkripsi.

Ia menjelaskan bahwa modifikasi protein histon serta dinamika RNA Polymerase II berperan penting dalam menentukan nasib sel, mulai dari proses pertumbuhan normal, pembentukan organ, hingga perubahan menjadi sel kanker yang invasif.

Menurut Prof. Kimura, DNA tidak berdiri sendiri di dalam inti sel, melainkan tersusun dalam struktur kompleks bernama kromatin. Unit dasar kromatin, yaitu nukleosom, dibalut oleh protein histon yang berfungsi mengatur aktivitas gen melalui berbagai mekanisme modifikasi seperti asetilasi, metilasi, dan fosforilasi.

“Modifikasi histon dan regulasi kromatin adalah kunci untuk memahami bagaimana sel dengan DNA yang sama bisa memiliki fungsi berbeda. Ini bukan hanya soal urutan basa, tetapi bagaimana informasi genetik tersebut diakses,” ujar Prof. Kimura.

Selain itu, Prof. Kimura juga memperkenalkan penggunaan kecerdasan buatan melalui platform AlphaFold2 untuk merancang protein antibodi yang lebih stabil dan efisien. Pendekatan ini dinilai dapat mempercepat riset di bidang epigenom global sekaligus memperluas potensi aplikasi biomedis di masa depan.

Dalam pemaparannya, ia turut menyoroti keterkaitan epigenetik dengan penyakit, khususnya kanker mulut, di mana modifikasi histon tertentu dapat memengaruhi kemampuan sel kanker untuk bermigrasi dan berkembang menjadi lebih invasif.

Antusiasme peserta tampak dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang dimoderatori oleh Astari Dwiranti, M.Eng., Ph.D., terutama terkait tantangan riset epigenetik di Indonesia. Salah satu peserta, Gamal, menyoroti keterbatasan akses penelitian visualisasi kromatin akibat tingginya biaya antibodi yang dibutuhkan dalam riset.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Kimura menyampaikan bahwa kolaborasi internasional menjadi salah satu tujuan utama kehadirannya di FMIPA UI. Ia bahkan membuka peluang kerja sama dan berbagi sumber daya antibodi untuk mendukung pengembangan riset di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Anom Bowolaksono, Ph.D. Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan sekaligus Guru Besar bidang Guru Besar Bidang Ilmu Biologi Selular dan Molekular Integratif FMIPA UI menekankan pentingnya pemilihan organisme model dalam penelitian transkripsi dan epigenetik.

“Penggunaan zebrafish dan mencit sangat krusial karena dinamika perkembangan mereka memungkinkan kita melihat aktivasi transkripsi secara alami yang sangat sulit dideteksi jika hanya menggunakan sistem buatan,” jelas Prof. Anom.

Melalui kegiatan ini, FMIPA UI terus memperkuat perannya sebagai ruang pertukaran ilmu yang mendorong kolaborasi riset internasional sekaligus mendukung pengembangan ilmu pengetahuan di bidang biologi molekuler dan epigenetik.

Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa perkembangan sains ke depan semakin mengarah pada manipulasi epigenetik dan pemrograman ulang sel. Pemahaman mendalam mengenai siklus transkripsi diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi dan teknologi baru untuk penanganan berbagai penyakit kompleks di masa mendatang.

Share this:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Email
Tumblr
Telegram
Print

Other News