Mahasiswa Geologi dan Geofisika FMIPA UI Pelajari Operasi Pengeboran Aman dan Efisien dari Praktisi Industri

Depok, 12 Mei 2026 – Ketidakstabilan lubang bor masih menjadi tantangan utama dalam industri migas karena dapat memicu berbagai risiko operasional, mulai dari runtuhnya dinding sumur (wellbore collapse), terjepitnya rangkaian pengeboran (pipe sticking), hingga rekahan batuan yang menyebabkan hilangnya fluida pengeboran (lost circulation). Kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya operasional dan menyebabkan keterlambatan proyek, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan kerja serta menurunkan efektivitas eksplorasi dan produksi hidrokarbon.

Hal tersebut menjadi latar belakang diangkatnya tema Basic Geomechanic for Wellbore Stability Analysis dalam kegiatan UI Geoscience Seminar x STARBORN MENGAJAR 2026 yang digelar FMIPA UI pada Senin (11/5/2026) di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, Kampus FMIPA UI, Depok.

Kegiatan ini dihadiri mahasiswa Program Studi Geologi dan Program Studi Geofisika FMIPA UI. Seminar menghadirkan Kukuh Al Rasyid, S.Si. Bussines Analyst PT Geoservices sebagai pembicara dengan moderator Agus Riyanto, S.Si., M.Si.

Dalam pemaparannya, Kukuh menjelaskan bahwa kegagalan memahami kondisi geologi dan mekanika batuan bawah permukaan dapat menyebabkan ketidakakuratan dalam menentukan tekanan pengeboran yang aman. Akibatnya, stabilitas sumur menjadi sulit dikendalikan.

Menurut Kukuh, kestabilan sumur bor berkaitan erat dengan interaksi antara tekanan pori batuan, distribusi tegasan bawah permukaan, karakteristik elastisitas batuan, serta perubahan kondisi mekanik akibat aktivitas pengeboran. Karena itu, pendekatan geomekanika dinilai penting untuk membantu insinyur dan geosaintis memprediksi respons batuan terhadap proses pengeboran melalui analisis parameter fisik dan mekanik batuan.

“Pemahaman ini dibutuhkan untuk menentukan desain pengeboran yang optimal, termasuk dalam penentuan mud weight window agar tekanan fluida pengeboran tetap berada pada batas aman, cukup besar untuk menahan tekanan formasi, namun tidak melebihi kekuatan batuan yang dapat memicu rekahan,” ujar Kukuh.

Ia menambahkan, geomekanika merupakan cabang ilmu yang mempelajari perilaku mekanik batuan serta pengaruh tekanan terhadap kondisi bawah permukaan. Pemahaman geomekanika, kata dia, memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan sumur bor selama proses pengeboran berlangsung.

“Geomekanika menjadi fondasi penting untuk memahami kondisi bawah permukaan sehingga proses pengeboran dapat dilakukan dengan lebih aman dan efisien,” kata Kukuh.

Materi yang disampaikan mencakup berbagai parameter geomekanika, seperti pore pressure, stress, rock strength, dan rock elasticity yang digunakan dalam pembangunan Mechanical Earth Model (MEM). Model tersebut berfungsi menggambarkan kondisi mekanik bawah permukaan secara menyeluruh sehingga dapat dimanfaatkan dalam perencanaan dan evaluasi operasi pengeboran.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme overpressure, metode estimasi pore pressure menggunakan data log, hingga konsep stress polygon dan near wellbore stress untuk memahami distribusi tegasan di sekitar sumur bor. Kukuh menjelaskan, perubahan tegasan di sekitar lubang bor dapat memengaruhi kekuatan batuan dan memicu kegagalan formasi apabila tidak dianalisis secara tepat.

Selain itu, Kukuh memaparkan konsep rock failure criterion menggunakan pendekatan Mohr-Coulomb untuk menganalisis potensi breakout maupun fracture pada sumur. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami batas kekuatan batuan terhadap kombinasi tegasan tertentu sehingga potensi keruntuhan maupun rekahan batuan dapat diprediksi lebih dini.

“Melalui analisis kestabilan sumur bor, potensi masalah selama pengeboran dapat diprediksi lebih awal sehingga keputusan operasional dapat dilakukan secara lebih tepat,” ujarnya.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan kuis mini interaktif yang menguji pemahaman peserta terkait konsep dasar geomekanika dan analisis kestabilan sumur bor. Tiga peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dengan baik mendapatkan suvenir sebagai bentuk apresiasi dari pembicara.

Pada sesi penutup, Kukuh kembali menegaskan pentingnya penguasaan geomekanika dalam mendukung operasi pengeboran yang aman dan efektif. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan peserta atas kesempatan berbagi ilmu dalam kegiatan tersebut.

Share this:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Email
Tumblr
Telegram
Print

Other News