Riset Peneliti FMIPA UI Hadirkan Model Prediksi Penurunan Tanah Pesisir Utara Jawa hingga Satu Abad

Depok, 3 Agustus 2026 – Peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) berkolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi dan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengembangkan model prediksi penurunan tanah (land subsidence) di kawasan pesisir utara Jawa Tengah hingga 100 tahun ke depan. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam mendukung kebijakan mitigasi bencana dan pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.

Penelitian mencakup wilayah pesisir Pekalongan, Kendal, Semarang, dan Demak. Pengambilan data lapangan dilaksanakan pada 9–17 Juli 2026 menggunakan teknologi fotogrametri, Light Detection and Ranging (LiDAR), serta Global Navigation Satellite System (GNSS) untuk memperoleh data topografi dan deformasi permukaan tanah beresolusi tinggi.

Data yang dikumpulkan akan digunakan sebagai data validasi dalam pengembangan model penurunan tanah. Integrasi ketiga teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan akurasi proyeksi perubahan elevasi permukaan tanah sehingga memberikan gambaran kondisi kawasan pesisir utara Jawa Tengah hingga satu abad mendatang.

Salah satu peneliti yang terlibat dalam kolaborasi ini, Ir. Twin Hosea W. Kristyanto, M.T. dari Program Studi Geologi FMIPA UI, berperan dalam menganalisis perubahan elevasi permukaan tanah melalui pengolahan data fotogrametri serta mengevaluasi laju penurunan tanah berdasarkan hasil pengukuran pada patok-patok pemantauan di setiap stasiun pengamatan. Integrasi kedua sumber data tersebut menjadi bagian penting dalam proses validasi model yang sedang dikembangkan sehingga proyeksi perubahan elevasi hingga 100 tahun mendatang dapat disusun dengan tingkat keandalan yang lebih baik.

Menurut Twin, penelitian ini tidak hanya berfokus pada pengukuran kondisi penurunan tanah saat ini, tetapi juga membangun model prediktif yang dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan mitigasi bencana di masa depan.

“Melalui integrasi data GNSS, LiDAR, fotogrametri, dan pemodelan geospasial, kami mengembangkan proyeksi penurunan tanah hingga 100 tahun ke depan agar dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan kebijakan,” ujar Twin.

Ia menegaskan bahwa penelitian ini tidak bertujuan menimbulkan kekhawatiran di masyarakat mengenai kemungkinan tenggelamnya pesisir utara Jawa Tengah. Sebaliknya, hasil penelitian diharapkan menjadi landasan ilmiah bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam menyusun langkah yang tepat dan mitigasi sejak dini.

“Kami ingin menyediakan informasi ilmiah yang dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data,” jelasnya.

Selama survei lapangan, tim peneliti juga menyaksikan secara langsung dampak penurunan tanah terhadap kehidupan masyarakat. Di sejumlah lokasi, rumah-rumah tampak semakin rendah dibandingkan permukaan jalan akibat penurunan elevasi yang terus berlangsung, sementara sebagian warga masih memilih bertahan di kawasan tersebut.

“Temuan di lapangan menunjukkan bahwa edukasi mengenai risiko penurunan tanah dan pentingnya upaya adaptasi masih perlu terus diperkuat,” kata Twin.

Tim juga menemukan adanya pembangunan kawasan permukiman baru di salah satu lokasi penelitian yang berada di sekitar wilayah dengan indikasi penurunan tanah cukup signifikan. Menurut Twin, temuan tersebut menegaskan pentingnya pemanfaatan hasil kajian ilmiah sebagai salah satu pertimbangan dalam perencanaan pembangunan agar aspek keselamatan, keberlanjutan, dan risiko jangka panjang dapat diantisipasi sejak awal.

Selain itu, Twin menyoroti pentingnya menjaga patok-patok pemantauan milik Badan Geologi yang menjadi acuan pengamatan deformasi tanah secara berkelanjutan. Selama survei, tim menemukan beberapa patok berada di tengah bangunan baru atau sulit diakses karena tertutup pagar yang mengalami kerusakan.

“Keberlangsungan data jangka panjang sangat bergantung pada terjaganya patok-patok pemantauan. Dukungan pemerintah daerah dan masyarakat diperlukan agar titik-titik pengukuran tetap dapat diakses,” ujarnya.

Ketua tim peneliti, Dr. Anjar T. Laksono, menambahkan bahwa hasil pengukuran lapangan menunjukkan laju penurunan tanah di wilayah penelitian berkisar antara 2–12 sentimeter per tahun. Penurunan terbesar terjadi di Sayung, Demak, dan Semarang Utara.

“Berdasarkan data patok pengukuran Badan Geologi, laju penurunan tanah di wilayah penelitian berkisar antara 2–12 sentimeter per tahun. Penurunan terbesar terjadi di Sayung, Demak, dan Semarang Utara, bahkan sejumlah patok pengukuran di Demak Utara kini sudah tergenang banjir rob,” ujar Anjar.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan model prediksi yang mampu menggambarkan dinamika penurunan tanah secara lebih akurat dalam jangka panjang.

“Melalui integrasi data GNSS, LiDAR, dan fotogrametri, kami berharap dapat menghasilkan model penurunan tanah dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi untuk memproyeksikan kondisi pesisir utara Jawa Tengah hingga 100 tahun ke depan,” katanya.

Selain FMIPA UI, penelitian ini melibatkan peneliti dari Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Padjadjaran, serta Badan Geologi Kementerian ESDM. Kolaborasi lintas institusi tersebut menggabungkan keahlian di bidang geodesi, geologi, dan teknologi geospasial guna menghasilkan model prediksi penurunan tanah yang lebih komprehensif.

Penelitian ini didanai oleh Kementerian Riset, Inovasi, dan Pendidikan Tinggi melalui Skema Hibah Penelitian Dosen Tahun 2026. Hasil penelitian diharapkan menjadi rujukan ilmiah sekaligus dasar pertimbangan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan mitigasi penurunan tanah, penataan ruang, pembangunan infrastruktur, serta strategi adaptasi kawasan pesisir terhadap dampak perubahan lingkungan.

Share this:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp
Email
Tumblr
Telegram
Print

Other News